Senin, 27 April 2026

Calon Polisi Gorontalo

89 Casis Bintara Polda Gorontalo 2025 Bertahan dari 1.300 Pendaftar

Proses seleksi calon Bintara Polda Gorontalo tahun 2025 memasuki tahap akhir.  Dari total lebih dari 1.300 pendaftar, saat ini hanya tersisa 89 orang

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 89 Casis Bintara Polda Gorontalo 2025 Bertahan dari 1.300 Pendaftar
HMS
SELEKSI BINTARA : Para casis tengah melakukan tahapan seleksi di Stadion Merdeka Kota Gorontalo, Kamis (12/6/2025). Saat ini tersisa tinggal 89 casis dari 1.300 an pendaftar. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Proses seleksi calon Bintara Polda Gorontalo tahun 2025 kini memasuki tahap akhir.

Dari lebih dari 1.300 pendaftar yang mengikuti seleksi sejak awal tahun, kini hanya tersisa 89 calon siswa (casis) yang masih bertahan.

Jumlah ini menjadi bukti betapa ketat dan selektifnya proses seleksi yang telah berlangsung sejak Februari 2025.

Tahapan demi tahapan dilakukan secara menyeluruh dan berlapis, menyaring ribuan pendaftar hingga menyisakan yang terbaik.

Kasubag Diapers Biro SDM Polda Gorontalo, AKP Angga Handiman, menyampaikan bahwa hingga saat ini, proses seleksi telah mencapai sekitar 80 persen.

Dua tahapan penting masih harus dilalui oleh para peserta, yakni seleksi penelusuran mental kepribadian (PMK) dan wawancara psikologi.

Kedua tahapan tersebut akan menjadi penentu akhir sebelum sidang kelulusan yang dijadwalkan pada 2 Juli 2025.

“Tes terakhir yang dijalani peserta adalah tes jasmani dan anthropometry,” ujar AKP Angga kepada TribunGorontalo.com, Kamis (12/6/2025).

Seleksi yang dimulai sejak Februari itu dibuka dengan tahapan pemeriksaan administrasi (rikmin) tahap satu, dilanjutkan dengan tes psikologi dan akademik berbasis sistem Computer Assisted Test (CAT).

Setelahnya, peserta harus melalui pemeriksaan kesehatan (rikes) tahap satu.

Usai tahapan tersebut, panitia melakukan perengkingan awal untuk menyeleksi peserta menuju tahap pemeriksaan kesehatan kedua.

"Setelah akademik, kita lakukan perengkingan awal, kemudian dilanjutkan dengan rikes tahap dua," jelas Angga.

Pemeriksaan kesehatan ini menjadi salah satu penyebab utama banyaknya peserta yang gugur.

Standar tinggi badan yang ketat—minimal 165 cm untuk laki-laki dan 160 cm untuk perempuan—menjadi salah satu penyaring awal.

Peserta yang tidak memenuhi syarat tersebut langsung dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS).

Namun bukan hanya tinggi badan yang diperiksa. Pemeriksaan menyeluruh juga dilakukan terhadap kondisi fisik peserta.

Mereka yang memiliki riwayat patah tulang atau pernah menjalani operasi otomatis gugur dari seleksi. 

“Intinya, kondisi fisik peserta tidak boleh sampai fatal. Kalau hanya keseleo, itu tidak masalah,” kata AKP Angga.

Tahapan pemeriksaan kesehatan ini melibatkan tim Biddokkes Polda Gorontalo yang didukung tenaga medis ahli serta peralatan medis memadai.

Banyak peserta gagal bukan karena penampilan luar, tetapi karena kesehatan internal yang hanya bisa terdeteksi lewat pemeriksaan intensif.

"Seluruh tahapan punya tantangan masing-masing, dan jumlah peserta yang gugur pada setiap tahapan relatif sama," jelasnya.

Guna menjaga transparansi dan akuntabilitas, panitia menyediakan tribun khusus bagi orang tua peserta untuk menyaksikan langsung seluruh proses seleksi.

Setiap tahapan diawasi ketat oleh pengawas internal Polri dan pengawas eksternal. 

“Orang tua bisa melihat langsung dari tribun, dan seluruh proses kami lengkapi dengan CCTV,” tambahnya.

Selain itu, panitia juga memberi ruang bagi peserta untuk menyampaikan komplain.

Salah satu contoh terjadi pada tahapan push up. Seorang peserta mengajukan keberatan karena merasa telah melakukan hitungan sesuai dengan ketentuan, namun hasilnya berbeda dengan penilaian panitia.

“Masalahnya, peserta menghitung sendiri, panitia juga menghitung. Tapi setelah diputar ulang CCTV, ternyata gerakan peserta tidak sempurna,” jelas AKP Angga.

Ia menegaskan bahwa sebelumnya panitia sudah memberikan panduan teknis secara rinci kepada semua peserta.

Secara keseluruhan, proses seleksi berjalan dengan lancar. Menurut AKP Angga, kendala yang muncul bersifat teknis dan tidak mengganggu jalannya proses secara keseluruhan.

“Sampai dengan saat ini proses seleksi berjalan lancar. Kalaupun ada kendala, itu hanya kendala-kendala kecil bersifat teknis,” pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved