Kunjungan Bill Gates
Pemerintah Indonesia Dapat Dana Hibah 157 Juta Dollar AS dari Bill Gates
Pemerintah Republik Indonesia mendapat dana hibah 157 Juta dollar AS dari Bill Gates.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/bill-gates_20180207_073030.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Pemerintah Republik Indonesia mendapat dana hibah 157 Juta dollar AS dari Bill Gates.
Melansir dari Kompas.com, dana itu terdiri dari bidang kesehatan 119 juta dollar AS, pertanian 5 juta dollar AS, sektor teknologi 5 juta dollar AS, dan bantuan sosial lainnya di lintas sektoral dengan total lebih dari 28 juta dollar AS.
"Di kesehatan 119 juta, pertanian 5 juta, teknologi 5 juta, bantuan sosial lainnya lintas sektor totalnya lebih dari 28 juta,” ucap Prabowo Subianto sebagaimana dikutip Kompas.com.
Adapun dana hibah pemberian pendiri Microsoft tersebut diterima langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Istana, Jakarta hari ini, Rabu (7/5/2025).
Dalam pertemuan itu, turut hadir Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menkomdigi Meutya Hafid, Menkes Budi Gunadi Sadikin, Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menlu Sugiono, dan para pengusaha Indonesia.
Kilas Balik Perjalanan Bill Gates
Nama Bill Gates tak bisa dilepaskan dari berbagai transformasi besar di era modern.
Di balik kunjungannya hari ini, terdapat kisah hidup yang inspiratif tentang seorang visioner yang memilih jalannya sendiri demi mewujudkan mimpi.
Tahun 1975 menjadi tonggak penting dalam hidup Gates.
Saat itu, ia mengambil keputusan besar, keluar dari Harvard University, salah satu kampus paling bergengsi di dunia, untuk merintis perusahaan perangkat lunak bersama sahabatnya, Paul Allen.
Berawal dari sebuah garasi sederhana, lahirlah Microsoft, perusahaan yang kemudian mengubah wajah industri komputer dunia dan membentuk ulang cara kita berinteraksi dengan teknologi.
Minat Gates terhadap dunia komputer sudah muncul sejak masa sekolahnya di Lakeside School, Seattle, pada akhir 1960-an.
Kala itu, ia baru berusia 13 tahun dan dikenalkan pada komputer General Electric serta bahasa pemrograman BASIC.
Saking besarnya minat Gates, sekolah mengizinkannya untuk melewatkan kelas matematika demi fokus belajar komputer.
Program pertamanya adalah permainan tic-tac-toe yang memungkinkan pemain bertanding melawan komputer.
Tak hanya itu, Gates juga turut membantu sekolahnya dengan membuat perangkat lunak untuk menjadwalkan kelas.
Di Lakeside pula, ia berkenalan dengan Paul Allen. Kedua remaja ini sama-sama punya semangat besar terhadap komputer dan bahkan sempat menciptakan Traf-o-Data, sebuah sistem analisis lalu lintas yang dikembangkan saat Gates masih berusia 17 tahun.
Awal mula lahirnya perusahaan teknologi raksasa
Meski berhasil masuk Harvard dengan skor SAT nyaris sempurna, Gates tidak bisa melepaskan ketertarikannya pada dunia teknologi.
Di tengah tekanan orang tuanya yang berharap ia menjadi pengacara, Gates justru menghabiskan banyak waktunya di lab komputer kampus.
Sementara itu, Paul Allen bekerja sebagai programmer di perusahaan teknologi Honeywell.
Pada tahun 1975, mereka membaca artikel di Popular Electronics tentang komputer mini Altair 8800.
Momen ini menjadi titik balik penting.
Mereka lalu menghubungi perusahaan pembuatnya, MITS, dan mengklaim telah mengembangkan software BASIC untuk perangkat tersebut, padahal software itu belum ada.
Setelah mendapat tanggapan positif, Gates dan Allen segera mengembangkan perangkat lunaknya dan berhasil memenuhi janji mereka.
Gates pun memutuskan keluar dari Harvard dan mendirikan perusahaan bernama Micro-Soft, yang kemudian dikenal sebagai Microsoft.
Ia menjabat sebagai CEO hingga tahun 2000, sementara Allen fokus pada riset dan pengembangan produk hingga 1983.
Lahirnya Windows dan awal ketegangan dengan Apple
Kerja sama awal Microsoft dengan MITS tidak berjalan semulus harapan.
Meski begitu, Bill Gates dan Paul Allen tetap melanjutkan langkah mereka dengan mengembangkan perangkat lunak untuk berbagai perusahaan lain.
Di era 1980-an, industri komputer sedang berkembang cepat.
Sementara Apple, Intel, dan IBM berlomba-lomba memproduksi perangkat keras, Microsoft fokus pada pengembangan perangkat lunak.
Pada 1980, IBM menggandeng Microsoft untuk menciptakan sistem operasi bagi komputer pribadi (PC) mereka.
Dari kerja sama ini, lahirlah MS-DOS, sistem operasi berbasis teks yang kemudian dilisensikan ke berbagai produsen PC.
Setahun setelahnya, Apple juga mengajak Microsoft bekerja sama untuk mengembangkan perangkat lunak bagi Macintosh, komputer yang mereka kembangkan dengan antarmuka grafis modern.
Namun, kolaborasi ini justru memicu ketegangan antara Steve Jobs dan Bill Gates.
Persaingan panas dan ekspansi produk Microsoft
Microsoft banyak belajar dari kerja sama dengan Apple, terutama soal antarmuka grafis.
Hasilnya, pada 1985, mereka merilis sistem operasi Windows yang memungkinkan pengguna berinteraksi lewat klik mouse dan tampilan visual, berbeda dari MS-DOS yang sepenuhnya berbasis teks.
Karena tampilan Windows dianggap terlalu mirip dengan sistem Macintosh, Apple menggugat Microsoft.
Namun, gugatan tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Microsoft.
Persaingan antara Gates dan Jobs terus berlanjut selama bertahun-tahun. Meski hubungan mereka tak selalu harmonis, Gates mengakui bahwa persaingan itu saling memotivasi.
Seiring waktu, Microsoft memperluas portofolionya dengan meluncurkan Microsoft Office pada 1990, serta masuk ke layanan cloud lewat Microsoft Azure pada 2010.
Perusahaan ini juga merambah ke industri gim lewat konsol Xbox, serta memperkuat bisnisnya dengan mengakuisisi berbagai perusahaan besar seperti Skype (2011), Mojang (2014), LinkedIn (2016), dan GitHub (2018).
Jadi miliarder di usia muda dan masuk daftar orang terkaya dunia
Sejak Microsoft merilis sistem operasi MS-DOS dan Windows, perusahaan ini terus tumbuh dan menjadi pemain dominan di industri teknologi global.
Pada tahun 1983, sekitar 30 persen komputer di dunia tercatat menggunakan sistem operasi buatan Microsoft.
Delapan tahun sejak didirikan, Microsoft resmi melantai di bursa saham pada Maret 1986 dengan harga penawaran perdana (IPO) sebesar 21 dollar AS per lembar.
Saat itu, Bill Gates masih memegang 45 persen dari total 24,7 juta saham perusahaan, dengan nilai mencapai sekitar 234 juta dollar AS.
Tak lama kemudian, nilai saham Microsoft meroket.
Pada 1987, sahamnya menembus harga 90,75 dollar AS, dan kekayaan bersih Gates tercatat sebesar 1,25 miliar dollar AS.
Gelar miliarder termuda di usia 31 tahun pun disematkan kepadanya, menjadikannya ikon keberhasilan dari dunia teknologi.
Meski gelar miliarder termuda akhirnya direbut oleh Mark Zuckerberg pada 2010, nama Bill Gates tetap konsisten menghiasi daftar orang terkaya di dunia versi Forbes.
Bahkan, Gates pernah menduduki posisi pertama selama bertahun-tahun.
Namun per 7 Mei 2025, menurut data terbaru dari Forbes Real-Time Billionaires, Gates berada di peringkat ke-13 orang terkaya dunia dengan total kekayaan bersih sebesar 113 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 1.867 triliun (kurs Rp 16.522 per USD).
Meski memiliki harta berlimpah, Gates dan mantan istrinya, Melinda, memutuskan tidak mewariskan seluruh kekayaan mereka kepada ketiga anaknya. Masing-masing anak, yaitu Jennifer, Rory, dan Phoebe, hanya akan menerima warisan sekitar 10 juta dollar AS.
Menurut Gates, kekayaan berlebih justru bisa menghambat anak-anak membangun jalannya sendiri dalam hidup.
Penghargaan atas dedikasi filantropi global
Atas kontribusinya di bidang kemanusiaan, terutama dalam sektor kesehatan dan pendidikan, Bill Gates dan istrinya saat itu, Melinda, menerima penghargaan bergengsi dari Pemerintah Meksiko pada tahun 2006, yakni Order of the Aztec Eagle.
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi yang diberikan kepada warga negara asing atas jasa mereka terhadap masyarakat dunia.
Sepuluh tahun berselang, pada 2016, pasangan ini kembali mendapat pengakuan internasional.
Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama, menganugerahkan mereka Presidential Medal of Freedom, sebagai bentuk penghormatan atas peran besar mereka dalam kegiatan filantropi berskala global, sebagaimana dikutip KompasTekno dari situs Biography.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dan Tribunnewsmaker.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.