Rabu, 11 Maret 2026

Kunci Jawaban

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 50 Kurikulum Merdeka: Analisis Novel

Dalam buku Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka halaman 50 tersebut siswa diminta untuk mengidentifikasi latar belakang penulis dalam novel.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Andriyani
zoom-inlihat foto Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 50 Kurikulum Merdeka: Analisis Novel
Buku Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka
KUNCI JAWABAN BAHASA INDONESIA - Ilustrasi ruang kelas dengan papan tulis. Berikut soal dan kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka halaman 50. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Berikut soal dan kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka halaman 50.

Dalam buku Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka halaman 50 tersebut siswa diminta untuk mengidentifikasi latar belakang penulis dalam novel.

Kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka halaman 50 dalam artikel ini hanya sebagai referensi orang tua untuk mengoreksi hasil pekerjaan siswa.

Maka dari itu, sebelum mencocokkan dengan kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka halaman 50 ini, siswa harus mengerjakan soal secara mandiri terlebih dahulu.

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 38 Kurikulum Merdeka: Pertanyaan Retoris

Kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 halaman 50

Kalian dapat menggunakan novel-novel berikut untuk dianalisis.

Kalian pun dapat menggunakan novel lain yang dapat dibaca, baik dari perpustakaan maupun sumber lainnya.

1. Kubah karya Ahmad Zamzuri;

2. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer;

3. Pertemuan Dua Hati karya N.H. Dini;

4. Lembata karya F. Rahardi.

Gunakanlah bagan berikut untuk mengidentifikasi kemunculan latar belakang penulis dalam novel!

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 32 Kurikulum Merdeka: Analisis Struktur Teks Anekdot

Kunci Jawaban:

Identitas Buku:

Cover Buku Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
Cover Buku Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. (kreskit.pbsi.uad.ac.id)

Penulis/Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

Tahun terbit: 2011

Judul: Gadis Pantai

Penerbit: Lentera Di Pantara

Jumlah halaman: 270 halaman

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 30 Kurikulum Merdeka: Identifikasi Teks Anekdot

Latar belakang pengarang yang muncul (budaya, sosial, pendidikan, dll.)

Pramoedya Ananta Toer biasa dipanggil Pram/ Toer dilahirkan di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925.

Ia pernah belajar di Sekolah Tinggi Islam: Kelas Filosofi dan Sosiologi, Jakarta.

Pram putra sulung dari seorang kepala sekolah Institut Budi Oetomo ini telah menghasilkan artikel, puisi, cerpen, dan novel sehingga melambungkan namanya sejajar dengan para sastrawan dunia.

Karya Pram yang penuh dengan kritik sosial sering membuatnya keluar-masuk penjara.

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang paling legendaris Bumi Manusia, Aru Balik, Jejak Langkah, Arok Dedes, Larasati.

Gadis Pantai merupakan salah satu buku karya pramoedya, buku ini menceritakan seorang gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang.

Gadis pantai memiliki rupa yang cukup manis untuk memikat hati seorang priyayi.

Keseharian gadis pantai yaitu menunggu perahu-perahu yang berangkat dari subuh hari sampai matahari mulai terbenam.

Tulisan Pramoedya tentang gadis pantai ini banyak menonjolkan sifat perbedaan kasta antara kaum bangsawan dengan pribumi pesisir.

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 16 Kurikulum Merdeka: Makna Istilah

Hal itu ditunjukan dengan kutipan:

"Gadis pantai dinikahkan dengan keris karena Bendoro berhalangan hadir. Hari berikutnya, Gadis Pantai diajak ke istana di daerah Jepara dengan pakaian kebaya dan kalung tipis menghiasi lehernya. Gadis Pantai terlihat sangat anggun. Bersama keluarga, lurah kampung, dan sanak saudara, mengendarai dokar yang telah dipesan oleh Bendoro."

Kelebihan buku ini adalah bahasa yang digunakan cukup mudah dimengerti dan memberikan ilmu bahwa dulu, seorang priyayi dapat menikah terlebih dahulu dengan wanita-wanita yang tidak sederajat

Saat membaca novel ini perhatian pembaca akan tertuju pada sebuah kalimat yang diucapkan di dalam hati si mbok yang ada di halaman delapan puluh, "Seorang Bendoro dengan istri orang kebanyakan tidaklah dianggap sudah beristri, sekalipun telah beranak selusin". Arti dari kalimat tersebut adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan pada zaman itu, mereka tidak mau menikah dengan wanita yang ada di bawah derajatnya.

Dari buku ini penulis ingin mengungkapkan tentang sejarah yang kuat, dengan membaca buku ini kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan sosial pada zaman dahulu di Jawa dan kita juga bisa mengetahui bahwa adanya unsur feodalisme pada kala itu.

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 6 Kurikulum Merdeka: Laporan Hasil Observasi

*) Disclaimer: Artikel ini hanya ditujukan kepada orangtua untuk memandu proses belajar anak.

Sebelum melihat kunci jawaban, siswa harus terlebih dahulu menjawabnya sendiri, setelah itu gunakan artikel ini untuk mengoreksi hasil pekerjaan siswa.

(Tribunnews.com/ Muhammad Alvian Fakka)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved