Pemerintahan Prabowo Gibran
Produksi Bioetanol Pengganti BBM, Presiden Prabowo Rencana Tanam 2 Juta Hektar Aren
Presiden Prabowo Subianto berniat meningkatkan produksi bioetanol sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pemerintah-RI-akan-menanam-pohon-aren-untuk-memproduksi-bioetanol.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Presiden Prabowo Subianto berniat meningkatkan produksi bioetanol sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM).
Gebrakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalama rapat antara Kemenhut dan Komisi IV DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (23/1/2025).
"Pak Prabowo merencanakan menanam 2 juta hektar aren. Kalau 1,1 juta hektar saja kita tanam, artinya kita bisa memproduksi 26 juta kiloliter bioetanol. Itu sama dengan impor BBM kita sebesar 26 juta kiloliter. Dan itu harganya sekitar Rp 300 triliun," kata Raja, Kamis.
Raja mengatakan, penanaman aren seluas itu membutuhkan biaya mencapai Rp 120 triliun.
Dia menyebut aren sebagai renewable energy, sehingga benih-benih lain bisa lahir jika benih tuanya sudah mati nanti.
"Tetapi karena memang ini adalah renewable energy, ketika 12 tahun nanti aren yang tua ini mati, anaknya sudah kembali lahir. 6-7 tahun baru bisa panen. 24.000 kiloliter per hektar. Ini jadi bioetanol air miring. Nderes. Tapi itu bisa jadi gula, jadi ijuk, dan ini sangat luar biasa. Bisa jadi cap tikus juga kata Pak Sekjen," jelas Raja.
Raja mengeklaim, Prabowo punya perhatian terhadap isu energi terbarukan atau renewable energy.
Politikus Partai Solidaritas Indonesia ini mengatakan, kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sudah sepantasnya dimanfaatkan untuk kebutuhan energi terbarukan.
"Tentang renewable energy, tanaman yang kebetulan kita memang diberkahi Allah dengan matahari yang cukup. Sehingga tanaman energi semacam nyamplung, kemiri, dan jarak bisa tumbuh. Karena ini menjadi concern Pak Presiden, khususnya aren," kata dia. Sementara itu, Raja menyampaikan bahwa informasi tersebut ia terima dari ahli agroforestri asal Belanda yang sudah lama berada di Indonesia. Yang paling penting, menurut si ahli itu, adalah pemilihan bibitnya.
"Jadi kalau kita salah bibit, maka dalam 7 tahun kita tak dapat apa-apa," kata Raja. "Pembenihan sudah ada?" tanya Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto.
"Jadi terus terang ini masih kita bicarakan dengan Pertamina dan PLN. Karena kami menyediakan lahan, menyediakan penyuluh, tapi nanti offtaker-nya, pembuatan pabriknya tentu dilakukan oleh BUMN atau Danantara yang sedang digagas Pak Presiden. Jadi ini masih dalam proses," ujar Raja.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Prabowo Ingin Tanam 2 Juta Hektare Aren untuk Bioetanol, Butuh Rp 120 Triliun"