Human Interest Story
Meski Usia Lanjut, Ambran Tetap Jadi Nelayan Jasa Angkut di Pelabuhan Kwandang
Ambran Aia (56), seorang nelayan jasa angkut di Pelabuhan Kwandang, Gorontalo Utara, membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk tetap bekerja kera
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ambran-Aia-Nelayan-Jasa-Angkut-di-Pelabuhan-Kwandang-Gorontalo-Utara.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Ambran Aia (56), seorang nelayan jasa angkut di Pelabuhan Kwandang, Gorontalo Utara, membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk tetap bekerja keras demi menghidupi keluarganya.
Meski usianya sudah tidak muda lagi, ia telah menggeluti profesi ini sejak tahun 2007.
Ambran berasal dari Makassar. Ia merantau ke Gorontalo, kemudian menikahi perempuan asal Ponelo, sebuah pulau kecil di Gorontalo Utara, dan memutuskan untuk menetap di kampung istrinya.
Setiap hari, Ambran mengandalkan perahu miliknya sendiri untuk menjalankan jasa angkut penumpang di kawasan Pelabuhan Kwandang.
Selama 18 tahun berlayar, Ambran telah mengumpulkan banyak pengalaman yang membuatnya tetap tangguh di tengah berbagai tantangan pekerjaan.
Dengan lima orang anak yang masih bergantung padanya, Ambran terus melawan bahaya ombak tinggi dan cuaca buruk demi mencari nafkah.
"Ini sudah jadi jalan hidup saya. Meski berisiko, saya harus kuat untuk keluarga," ujar Ambran.
Sebagai nelayan jasa angkut, Ambran mengaku pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia bisa menghasilkan Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per hari ketika penumpang sedang ramai.
"Biasanya hari pasar ramai sekali. Banyak orang dari Pulau Ponelo datang ke Kwandang untuk belanja atau urusan lain," ungkap Ambran saat ditemui TribunGorontalo.com pada Senin (13/1/2025).
Mobilitas warga antar pulau menjadi tumpuan utama pendapatan Ambran.
Ia sering melayani penduduk yang hendak membeli kebutuhan pokok di Kwandang atau pulang ke kampung halaman di Pulau Ponelo.
Pulau Ponelo sendiri merupakan salah satu kecamatan di Gorontalo Utara yang memiliki akses terbatas, sehingga perahu Ambran menjadi sarana transportasi vital.
Selain melayani warga lokal, wisatawan juga menjadi penumpang yang kerap ia antar.
Tempat-tempat wisata di sekitar Pulau Ponelo menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
"Kalau sedang ramai wisatawan, saya bisa dapat satu rombongan. Sekali berlayar dengan 8-10 penumpang, saya bisa mendapatkan Rp 800 ribu," kata Ambran.
Namun, tidak setiap hari pendapatannya stabil. Jika bukan hari pasar, jumlah penumpang bisa menurun drastis.
Pada hari-hari sepi, Ambran hanya bisa menunggu penumpang bersama nelayan lain di pelabuhan.
Meski begitu, Ambran tetap optimis. Ia berharap sektor pariwisata di Pulau Ponelo terus berkembang.
"Kalau wisata semakin ramai, pasti kami sebagai nelayan jasa angkut juga merasakan manfaatnya. Pengunjung lebih banyak, rezeki kami juga bertambah," harap Ambran dengan senyum semangat.
Dengan dedikasinya, Ambran menjadi contoh nyata perjuangan seorang kepala keluarga yang tidak pernah menyerah, meskipun usia dan risiko pekerjaan sering kali menjadi tantangan besar baginya.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.