Miss Transqueen Gorontalo
Penolakan Kompetisi Miss Transqueen Gorontalo 2024, Masyarakat dan Tokoh Agama Bersuara Keras
Acara yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2024 ini menuai kontroversi, terutama dari kelompok-kelompok masyarakat dan tokoh agama.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2024-09-13_Miss-Transqueen-Gorontalo-2024-menuai-polemik.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rencana penyelenggaraan kompetisi Miss Transqueen Gorontalo 2024 memicu gelombang penolakan dari berbagai kalangan masyarakat.
Acara yang dijadwalkan berlangsung pada akhir September 2024 ini menuai kontroversi, terutama dari kelompok-kelompok masyarakat dan tokoh agama.
Pihak yang kontra menganggap bahwa kompetisi tersebut bertentangan dengan nilai-nilai budaya serta agama di Gorontalo.
Miss Transqueen adalah sebuah ajang kecantikan yang ditujukan bagi perempuan transgender yang bertujuan untuk merayakan keberagaman gender.
Juga kompetisi ini disebut untuk memperjuangkan hak-hak LGBTQ+, serta mengangkat kesadaran publik akan isu-isu yang dihadapi oleh komunitas transgender.
Namun, di provinsi dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam ini, rencana tersebut menimbulkan reaksi keras dari masyarakat.
Warga yang merasa keberatan berpendapat bahwa kompetisi seperti Miss Transqueen tidak sesuai dengan norma-norma sosial dan keagamaan yang dianut oleh mayoritas penduduk Gorontalo.
Penolakan yang paling kuat datang dari berbagai organisasi keagamaan di Gorontalo. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gorontalo misalnya melakukan penolakan.
Bahkan, organisasi ulama ini mempublikasi flyer penolakan dengan menyertakan tangkapan layar terkait kegiatan tersebut.
"Wajib tolak LGBT di Gorontalo," tulis MUI dalam publikasinya.
Perang narasi soal LGBT ini paling getol di Facebook, Sutrisno Djunaidi bahkan menulis bahwa keberadaan LGBT sebetulnya telah jadi rahasia umum di Gorontalo.
Selama ini memang para kaum LGBT hidup berdampingan dengan masyarakat. Namun dengan kompetisi ini, justru menjadi pemicu terciptanya ruang benci.
"Padahal s enak hidup berdampingan tanpa 'mendiskreditkan kelompok tertentu', karena itu sudah pilihan "mereka". Justru adanya gerakan ini, ruang kalian untuk bisa di terima di lingkungan masyarakat semakin kecil bahkan peluang untuk di benci itu semakin BESAR," tulisnya. (*)
Belum diketahui apakah ini kompetisi ini adalah waralaba, namun dalam artikel Wikipedia menyebutkan bahwa kompetisi yang sama sudah digelar sejak 2004 di Thailand.
Kompetisi untuk para transgender itu disebut Miss International Queen. Bahkan, kompetisi ini jadi terbesar dan paling prestisius wanita transgender dari seluruh dunia.
Para peserta harus ditunjuk sebagai laki-laki saat lahir dan berusia antara 18-36 tahun. Peserta hanya dapat mewakili negara tempat kelahirannya yang terdaftar di paspor.
Semua peserta akan tinggal bersama selama 1 pekan dan berpartisipasi dalam kegiatan pengambilan foto, makan siang dengan ofisial Kota Pattaya, makan malam dengan pers, mengunjungi sponsor dan masyarakat.
Kontes ini diorganisasi oleh Tiffany's Show Pattaya Co. Ltd. dan disponsori oleh Otoritas Pariwisata Thailand.
Tujuan diadakannya kontes adalah menumbuhkan kesadaran hak transgender di kalangan masyarakat internasional, penggalangan dana yang akan disumbangkan ke yayasan AIDS Kerajaan Thai, membangun persahabatan, sikap sportif dan bertukar ide antar komunitas LGBT internasional.
Pemenang akan dihadiahi uang tunai US$12.500, 1 unit apartemen di Woodland Hotel and Resort di Kota Pattaya untuk 1 tahun, dan hadiah-hadiah lainnya dari sponsor.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.