Universitas Negeri Gorontalo

Rektor UNG Eduart Wolok Resmikan Monumen Tanggomo Hasil Karya Mahasiswa

Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG),  Eduart Wolok,  meresmikan monumen tanggomo yang dibuat oleh mahasiswa UNG.

Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Ponge Aldi
UNG
Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG),  Eduart Wolok,  meresmikan monumen tanggomo yang dibuat oleh mahasiswa UNG. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG),  Eduart Wolok,  meresmikan monumen tanggomo yang dibuat oleh mahasiswa UNG.

Monumen tanggomo ini berada di Wombohe Jurnalis, sekretariat Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Gorontalo yang ditujukan sebagai pengingat jurnalisme lokal di Gorontalo.

Kata Eduart, monumen ini sebagai pengingat khususnya bagi jurnalis Gorontao untuk menjaga tradisi bagi kemajuan masyarakat Gorontalo.

“Monumen ini memberikan pertanda bagi kita bagaimana menjaga tradisi dan bagaimana tradisi itu berkontribusi bagi kemajuan masyarakat Gorontalo ke depan,” ujarnya.

Dengan adanya monumen tanggomo ini, Eduart pun mengapresiasi AMSI yang telah menginisiasi dan menghidupkan kembali budaya tanggomo dan memperkenalkan tanggomo ke anak jaman sekarang.

”Budaya sastra yang menjadi local wisdom (kearifan lokal) Gorontalo kita pertahankan dan tidak hilang begitu saja," lanjutnya.

Menurut Eduart, jurnalis di Gorontalo saat ini telah berkembang dengan baik, maka dengan itu Rektor berharap AMSI dapat meningjatkan kapasitas dan kualitas pemberitaan media.

Kata Eduart, media tidak hanya sekadar memberitakan saja, namun ada esensi yang lebih penting karena menjadi mitra yang bersentuhan langsung dengan seluruh elemen di masyarakat agar dapat memberikan edukasi lewar pemberitaan agar dapat memberikan kontribusi di kehidupan masyarakat.

Verrianto Madjowa, Ketua AMSI Gorontalo mengatakan di dalam tanggomo terdapar kajian dan ilmu sastra yang lebih banyak di Gorontalo.

Lanjut kata Verri, tanggamo sebenarnya telah mengandung unsur dan fungsi jurnalistik ratusan tahun lalu di Gorontalo dalam memberikan informasi ke khalayak ramai.

Menurut Verri, tukang tanggomo mencari dan mengumpukan informasi dari masyarakat, kemudian disebarluaskan ditempat umum secara lisan maupun dengan menggunakan alat musik, seperti gambus.

Dengan mengutip Bill Kovach & Tom Rosenstiel, Verri menjelaskan, saat abad pertengahan berakhir, berita datang dalam bentuk lagu dan cerita, dalam balada-balada yang disenandungkan pengamen keliling.

Verri mengatakan sketsa dan proses pembuatan monumen tanggomo karya tiga mahasiswa Pendidikan Seni Rupa dan Desain Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo masing-masing: Sri Lismawati S. Dai, Fahria R. F. Utina dan Ahmad Iqbal Puluraga.

Selain itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNG, Angelica Cicilia, sedang melakukan penelitian aspek jurnalisme lokal dalam tanggomo.

Hadir dalam acara ini, majelis etik dan pengurus AMSI Gorontalo, antara lain, Dr. Salahudin Pakaya yang juga Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Muchlis S. Huntua sebelumnya Wakil Rektor I Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, Ardi Wiranata Arsyad sebagai praktisi hukum dan akademisi, Melki Gani dan Awaludin.

Selain itu, doa dan syukuran Wombohe Jurnalis dihadiri perwakilan organisasi konstituen Dewan Pers, seperti PWI, AJI, IJTI, SMSI, JMSI dan wartawan di Gorontalo.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved