Berita Kota Gorontalo
Cerita di Balik Masjid Seribu Rupiah Kota Gorontalo
Masjid Seribu Rupiah berada di Jalan Ternate, Kelurahan Molosipat U, Kota Gorontalo.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Masjid-Seribu-Rupiah-di-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Masjid Seribu Rupiah berada di Jalan Ternate, Kelurahan Molosipat U, Kota Gorontalo.
Masjid ini dibangun oleh pihak MTS Negeri I Kota Gorontalo.
Wakil Ketua Takmirul Masjid Seribu Rupiah, Hasiru Muhi, mengatakan awal mula pembangunan masjid.
"Dulu ini hanya mushola kecil saja untuk siswa-siswi salat," ujar Hasiru Muhi kepada TribunGorontalo.com, Senin (5/8/2024).
Pembangunan masjid dimulai antara tahun 2018 sampai dengan 2019.
"Pokoknya sejak awal-awal sebelum kemunculan Covid-19," ungkap Hasiru.
Di awal pembangunan, belum ada kesepakatan untuk pemberian nama masjid.
Pemberian nama baru disepakati saat memasuki akhir pengerjaan.
Alokasi dana pembangunan, telah dirapatkan dengan di internal MTS Negeri I Kota Gorontalo.
"Pihak sekolah menyarankan kepada komite untuk meminta kepada siswa atau orang tua siswa. Setiap hari itu sumbang seribu rupiah," ungkapnya.
Selama masa pembangunan, sumbangan seribu rupiah terus berjalan.
Ia menyebut program sempat terkendala selama dua tahun saat pandemi Covid-19.
Baca juga: Sosok Sersan Ishak Nur, Babinsa Gorontalo Inisiasi Masyarakat Bangun Masjid dari Jualan Hasil Kebun
Setelah kembali pulih, pembangunan kembali dilanjutkan.
Tak hanya sumbangan dari siswa-siswi, pihaknya juga membuka partisipasi dari masyarakat.
Pembangunan masjid, kata Hasiru, membutuhkan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar lebih.
"Sebagian besar berasal dari sumbangan siswa, kita seribu lebih siswa. Bayangkan saja kalau setiap setiap siswa sumbang seribu, maka satu hari itu bisa Rp 1 juta lebih," rincinya.
"Siswa yang tidak menyumbang pun tidak ada masalah," imbuhnya.
Kata dia, sudah menjadi kesepakatan awal pihak madrasah.
Tak hanya berasal dari siswa-siswi, sumbangan juga berasal dari guru-guru.
Saat memasuki perampungan, nama Masjid Seribu Rupiah akhirnya disepakati bersama.
Masjid dibangun dua lantai dengan corak warga kuning keemasan itu bisa digunakan masyarakat umum.
Saat pertama kali berdiri, Masjid Seribu Rupiah mampu menampung 100-an jemaah.
"Kalau sekarang sudah jadi dua lantai, jemaah bisa sampai 500 lebih," pungkasnya. [*]
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.