Human Interest Story
Cerita Afieany Rahim Jadi Cosplayer di Gorontalo
Afieany Rahim bercerita mengenai pengalamannya menjadi cosplayer di Gorontalo.
Penulis: Andika Machmud | Editor: Ponge Aldi
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Cerita Afieany Rahim spal pengalamannya menjadi cosplayer di Gorontalo.
Afieany mengaku pertama terjun ke dunia cosplay di 2015 saat diajak oleh rekannya.
Meski pengetahuan mengenai animenya hanya Naruto dan Hatsune Miku, namun ia memberanikan untuk hadir di acara tersebut.
"Saat itu kebetulan event temanya naruto," jelasnya.
Afieany Rahim bernama panggung Aoi Api, ia menjelaskan nama tersebut api yang biru.
Sudah hampir 10 tahun berkecimpung di dunia cosplay, Afieany melihat bahwa masyarakat Gorontalo masih memandang bahwa seorang yang menyukai jejepangan adalah hal yang buruk.
Kebanyakan masih berpikiran cosplay atau penyuka jejepangan erat kaitannya dengan hal-hal dewasa yang berkonotasi negatif.
"Jadi dogma tersebut menjadikan seseorang yang punya hobi mengenai cosplay memilih untuk mengubur mimpi tersebut," ungkapnya kepada TribunGorontalo, Minggu (03/03/2024).
Afieany mulai menyalurkan hobinya cosplay saat ada kegiatan sekolahnya, namun saat itu ia mengaku masih belum banyak event lain atau sarana yang dapat menunjang hobinya tersebut.
Setelah pasca Covid-19, Afieany melihat ada komunitas cosplay yang bangkit dan mulai membuat beberapa event.
Sejak saat itulah ia merasa bahwa konotasi cosplay di masyarakat lebih berubah ke arah yang lebih positif.
Untuk Afieany, ia menganggap jika cosplay itu seperti sedang memainkan peran orang lain dan melarikan diri di dunia nyata.
"Kenapa saya terjun disini? Karena saya ingin melarikan diri dari dunia saya yang sebenarnya," ungkapnya.
Ia mengaku banyak yang melihat dirinya sebagai seseorang yang sombong, dan pemarah.
Namun, ia mengaku bahwa dirinya bukanlah seseorang yang dianggap orang seperti itu.
"Diri saya sendiri itu ingin disukai sama orang lain," ungkapnya.
Afieany merasa jika respon orang-orang yang berada dalam komunitas cosplay tersebut berbeda.
Ia malah merasa sangat diterima oleh teman-teman barunya.
"Respon mereka (teman cosplay) beda, mereka kenal saya sebagai cosplay itu beda," jelasnya.
Karena disukai oleh teman-temannya tersebut, Afieany sampai saat ini menjadi cosplayer.
Semakin lama, Afieany malah semakin suka dan mengembangkan hobinya yang terpendam tersebut selama empat tahun.
Ia kemudian debut menjadi cosplayer di depan umum dengan menjadi MC di acara yang diikutinya selama ini.
Meski terbilang sebagai hobi yang mahal, ia merasa sangat senang.
"Satu set kostum itu bisa sampai Rp 500 ribu untuk yang kualitasnya rendah dan Rp 2.5 juta untuk kualitasnya bagus," jelasnya.
Uang tersebut, ungkap Afieany, belum termasuk wig, make up, sepatu, dan aksesoris yang diperlukan.
Ia biasanya ingin memerankan karakter tertentu, namun tidak dapat menemukan kostumnya.
Oleh karena itu, Afieany sering mencari penjahit dari seluruh Indonesia.
Dari penuturannya, ia mengaku waktu yang diperlukan untuk membuat kostum anime tersebut sangat lama.
Untuk daerah Gorontalo, Afieany sampai sekarang belum menemukan penjahit yang bisa membuat baju sesuai dengan anime yang diinginkannya.
Afieany sampai sekarang memilih untuk membeli dan meminjam kostum yang ingin diperankannya dari luar daerah.
Karakter paling sulit untuk diperankan selama menjadi cosplayer menurutnya adalah Shikanoin Heizou dari karakter Genshin Impact.
"Aksesorisnya harus dipasang oleh dua orang," ungkapnya.
Selain itu, adapun karakter Cardcaptor Sakura yang merupakan anime tahun 2000-an.
Orang tua Afieany diketahui saat ini mendukung hobi anaknya tersebut.
Meski awalnya skeptis dan dianggap menghambur-hamburkan uang, sekarang orang tuanya malah senang anaknya menjalankan hobinya.
"Orang tua kasih ijin dan disupport selama tidak mengandung sara, pornografi, dan lain yang ke arah negatif," ungkapnya.
Ia pernah ingin berhenti menjadi cosplayer karena mendapatkan pelecehan di media sosialnya.
"Memang beberapa oknum masih melihat perempuan itu sebagai objek," ungkapnya.
Ia berharap kedepannya kepada penikmat anime atau penonton acara cosplayer agar selalu dalam batasan.
"Ingat cosplayer juga punya hati dan perasaan, cosplayer juga manusia. Jadi tidak boleh sembarangan," tutupnya.
| Kisah Yus Sahi Perintis Kopi Surplus Gorontalo: Makna Memanusiakan Manusia |
|
|---|
| Cerita Ismail Husin, Mahasiswa UNG Tekuni Dunia Jurnalistik |
|
|---|
| Kisah Inspiratif Casriyati Tarpo di Gorontalo, Bantu Ekonomi Keluarga dengan Jualan Cendol |
|
|---|
| Kisah Iptu Fitri S Ali Sosok Kapolsek Telaga Biru, 4 Kali Gagal Tes TNI Gorontalo |
|
|---|
| Saad Lintang Mahasiswa Gorontalo yang Curi Perhatian, Tekuni Fotografi dan Jurnalistik Sekaligus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Afieany-Rahim-78999000.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.