Human Interest Story
Meydi Lasaleng Mahasiswa Kedokteran Rusia Bertekad Bangun Rumah Sakit Gratis di Gorontalo
Meydi bertekad membangun klinik dan rumah sakit berfasilitas lengkap. Semua itu karena kecintaannya di tanah kelahirannya.
Penulis: Andika Machmud | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Meydi-Lasaleng.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Meydi Lasaleng (24) mahasiswa kedokteran di Rusia.
Meydi bertekad membangun klinik dan rumah sakit berfasilitas lengkap. Semua itu karena kecintaannya di tanah kelahirannya.
Ia saat ini berkuliah di Saratov State Medical University. Sebuah universitas terkemuka di Rusia didirikan pada 9 Juni 1909.
Salah satu alumninya adalah Dmitry Morozov. Pemimpin tim ilmuwan yang berlomba membuat jutaan dosis dari sejumlah kecil vaksin COVID-19 di Rusia.
Awal pendidikan
Selama tiga tahun lebih Meydi berusaha masuk universitas. Berkali-kali ia gagal.
Pria kelahiran 1 Mei 2000 itu tidak menyerah. Sejak percobaan pertama di tahun 2019 dan 2020 gagal, akhirnya tahun 2021 ia lolos di kampus luar negeri.
Bahkan Meydi diterima oleh dua universitas sekaligus, di Jerman dan Rusia.
Namun karena terhalang biaya, ia memutuskan untuk mengambil pilihan kedua.
"Lulus di tahun 2021 juga di Jerman dan gratis. Namun harus menyediakan tabungan sebesar 10 ribu euro langsung sebelum masuk perkuliahan," kata Meydi saat dihubungi TribunGorontalo.com, Selasa (06/2/2024).
Ia akhirnya memilih Rusia karena tidak harus menyediakan syarat tabungan. Selain itu biayanya lebih murah ketimbang kampus di Jerman.
"Kuliah di Rusia itu range biayanya Rp68-72 juta per tahun," ungkapnya.
Baca juga: Kecewa Presiden tak Netral Picu Universitas Muhammadiyah Gorontalo Deklarasi Pemilu Berintegritas
Prestasi
Selama berkuliah, Meydi mendulang sejumlah prestasi.
Remaja memenangkan karya tulis ilmiah kedokteran dalam bahasa Rusia. Tulisannya membahas mengenai sistem kesehatan di Indonesia dan tokoh yang memotivasinya.
Adalah Dokter Lie A Darmawan yang membuatnya terinspirasi. Pria akrab disapa Meydi itu mengatakan, tulisannya memuat tentang kisah dokter yang membuat rumah sakit apung.
Selain itu, ia merupakan runner-up Olimpiade Rusia tingkat Provinsi.
Meskipun sangat aktif mengikuti perlombaan, nilai akademiknya juga tinggi. Terbukti Meydi mendapatkan potongan harga UKT 20-35 persen. Ia hanya membayar sekitar 30-40 juta.
"Di kampus ini menyediakan diskon untuk mahasiswa yang memiliki prestasi, dan nilai yang tinggi. Biasanya, nilai itu diukur dari ujian. Saya dapat nilai sempurna 4 dari 6 ujian. Sisanya, nilainya 4 dari range 0 sampai 5," jelasnya.
Baca juga: Pilu! Tak Ada Beras, Kakek di Gorontalo Ini Makan Kelapa Parut Dicampur Air
Tantangan kuliah di luar negeri
Diketahui seluruh pelajar di Indonesia dihimbau untuk menjalin komunikasi dengan pihak kedutaan, jika terjadi pertikaian yang lebih besar antar kedua negara.
Namun selama ini Meydi masih merasa aman. Ia hanya mengeluh harga bahan pokok naik.
Dibalik kegigihannya, ternyata ibunya yang menjadi alasan utama ia menjadi Dokter.
"Ibu saya asma dan sering sakit," jelasnya.
Ia ingin melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis bedah syaraf di Jerman.
"Saya ingin mengambil bedah syarah karena tentu itu bidang tersulit kedokteran. Syaratnya IPK harus tinggi. Bidang itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi," tandasnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.