Berita Kota Gorontalo

Warga Gorontalo Serbu Pasar Sentral, Beli Cabai hanya Rp 15 Ribu per Kilogram

Warga Gorontalo menyerbu pasar sentral untuk beli rica yang dipatok dengan harga Rp. 15 per kilo gram.

Penulis: Husnul Puhi | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNGORONTALO/HUSNUPUHI
Warga Gorontalo menyerbu pasar sentral untuk membeli cabai dan tomat yang dijual dengan harga terjangkau. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -Warga Gorontalo menyerbu pasar sentral untuk beli cabai yang dipatok dengan harga Rp. 15 per kilo gram.

Pantauan TribunGorontalo.com, sekitar pukul 08.00 Wita begitu banyak warga memenuhi pasar murah di Pasar Sentral Kota Gorontalo, Kamis (21/12/2023).

Warga yang memenuhi pasar sentral Gorontalo itu untuk membeli kebutuhan bahan pokok seperti cabai dan tomat yang dijual dengan harga murah oleh pemerintah setempat.

Untuk harga cabai yang diperjual belikan di pasar tersebut dipatok dengan harga Rp. 15 ribu per kilonya.

Sementara harga tomat dibanderol dengan harga Rp. 5 ribu per kilo gram.

Untuk memastikan keseluruhan warga mendapatkan komoditas tersebut, pemerintah membatasi maksimal pembelian.

Cabai di pasar murah itu maksimal pembeliannya hanya 2 ons per orang. Sedangkan, tomat maksimalnya 0,5 kilo gram.

Yuniarti (52) seorang pembeli menyatakan, kegembiraannya terhadap pembelian dua komiditas yang dijual dengan harga murah itu.

Bagi dia, program yang dibuat oleh pemerintah itu sangat efektif untuk memenuhi kebutuhan dapurnya.

Meskipun, pembeliannya hanya cukup dibatasi dengan membeli per 2 ons atau 0,5 kilo gram.

"Tidak apa dibatasi, yang penting saya bisa beli cabaik dan tomat dengan harga murah. Dari pada tidak ada sama sekali," ucapnya singkat kepada TribunGorontalo.com.

Namun begitu, terdapat 2 syarat bagi warga yang ingin membeli dua komoditas tersebut. 

Syaratnya adalah hanya cukup membawa KTP asli dan foto copy KTP satu lembar.

Dua komoditas yang dijual dengan harga terjangkau itu, tentu untuk menekan angka inflasi yang terus naik jelang akhir tahun ini.

Pemprov Gorontalo Rutin Gelar Pasar Murah Setelah IPH Naik Posisi 8 di Indonesia Timur

Indeks Perkembangan Harga (IPH) pangan Provinsi Gorontalo menempati posisi ke delapan terbesar se Indonesia Timur atau luar pulau Jawa dan Sumatera.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Perdagangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo, bahwa ada dua daerah yang mengalami lonjakan IPH. Daerah yang dimaksud yaitu Kabupaten Gorontalo dan Bone Bolango.

Untuk mengeluarkan posisi delapan terbesar IPH se Indonesia Timur itu, upaya yang akan dilakukan oleh Pemprov Gorontalo di antaranya menggelar pasar murah.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Provinsi Gorontalo, Iwan Sondakh mengatakan untuk mengeluarkan Provinsi Gorontalo dari posisi 8 tersebut, pihaknya akan melakukan pasar murah di beberapa daerah.

Khususnya, wilayah yang tercatat sebagai penyumbang terbesar IPH pangan yaitu Kabupaten Gorontalo dan Bone Bolango.

Menurut Iwan, pihaknya tak hanya melirik dua daerah yang mengalami lonjakan IPH itu. Melainkan, juga memantau daerah-daerah lainnya.

"Secara umum ada juga yang harus kita tangani bersama. Sehingga, secara intens dari tiga bulan terakhir ini kita turun ke pasar untuk memantau dan melakukan pasar murah," ujar Iwan saat ditemui di kantornya, Senin (18/12/2023).

Pihaknya rutin menggelar pasar murah itu untuk mengendalikan inflasi atau stabilisasi harga pangan di Provinsi Gorontalo.

Ia juga menjelaskan, bahwa faktor utama dua wilayah di Gorontalo yang masuk dalam posisi ke tujuh IPH terbesar se Indonesia itu karena adanya lonjakan harga cabai di Gorontalo.

Menurutnya, rata-rata keseluruhan harga pangan yang mengalami lonjakan dan termasuk dalam IPH itu adalah cabai.

"Ini bisa kita lihat, ternyata masyarakat itu lebih menyukai cabai Gorontalo dibanding dengan cabai kriting," imbuhnya.

 Iwan menyatakan, besar kemungkinan akan terjadi lonjakan harga pada akhir Desember hingga awal Januari

"Tidak menutup kemungkinan, harga cabai pada akhir Desember - Januari mendatang akan naik, karena permintaan juga besar dari Manado, Provinsi Sulawesi Utara," pungkasnya.

Sekadar informasi, Badan Pusat Statitik (BPS) telah mencatatkan sebanyak 343 kabupaten kota di Indonesia mengalami kenaikan IPH di minggu pertama pada Desember 2023.

Komoditas cabai merah dan cabai rawit memiliki andil terbesar dalam kenaikan IPH.

Untuk kenaikan IPH tertinggi di luar pulau Jawa dan Sumatera, BPS mencatat bahwa daerah Minahasa, Sulawesi Utara yang paling tertinggi dengan presentase 7,21 persen.

Kemudian untuk peringkat kedua dan ketiga IPH tertinggi di luar Jawa dan Sumatera adalah Halmahera Selatan dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Sementara, Provinsi Gorontalo berada di posisi ke delapan dengan presentase 5,49 persen.

Adapun komoditas yang paling besar dalam angka kenaikan IPH di Provinsi Gorontalo meliputi cabai merah, cabai rawit, dan ayam pedaging. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved