Viral Puskesmas Telaga
Sosok Nur Hayati, Istri Arif Ismail yang Meninggal usai Dilarikan ke Puskesmas Telaga Gorontalo
Suami Nurhayati, Arif Ismail (28) membeberkan sosok mendiang istrinya Nur Hayati Pipii.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nur-Hayati-istri-Arif-Ismail.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Suami Nur Hayati, Arif Ismail (28) membeberkan sosok mendiang istrinya, Nur Hayati Pipii.
Menurut Arif, Nur Hayati merupakan perempuan yang supel.
"Bahkan baru sebulan kerja, dia sudah dikenal oleh rekan kerjanya," ungkap Arif Kepada TribunGorontalo.com, Minggu (3/11/2023).
Wanita kelahiran 1997 itu kata Arif, dilahirkan di Gorontalo namun Nur Hayati dibesarkan orang tuanya di Kalimantan Timur, Samarinda.
Nur merupakan lulusan DIII Akademi Kebidanan di Samarinda. Ia melanjutkan jenjang DIV-nya di Jawa.
Setelah wisuda, Nur kembali ke kampung halamannya di Desa Bulota, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo pada 2021.
Tahun itu merupakan awal mula Arif dan Nur Hayati menjalin asmara sampai keduanya memutuskan menikah.
"Kami menikah itu di bulan Maret Tahun 2023," ujar Arif.
Nur lalu diterima bekerja di Rumah Sakit Dunda Gorontalo sebagai tenaga bidan.
Sebulan sebelum meninggal dunia, Arif mengaku jika Nur sempat bergurau dengannya.
"Sebenarnya saya cuma bercanda. Saya bilang waktu itu dirinya tampak cantik," kata Arif.
Mendengar perkataan itu, Nur menyahutinya dengan kalimat: Berarti sudah mau meninggal dong.
"Ternyata apa yang dikatakan waktu itu terbukti, saat ini dia (Nur) telah wafat," ujar Arif.
Nur Hayati meninggalkan seorang anak yang usianya belum cukup dua minggu.
"Awalnya namanya anak saya Fazri, namun setelah istri saya meninggal namanya ditambah menjadi Nur Fazri Ismail," tandasnya.
Baca juga: Alasan Petugas Puskesmas Telaga Gorontalo tak Sempat Layani Pasien di Tengah Malam
Diberitakan sebelumnya, Arif Ismail sempat meluapkan emosinya di media sosial.
Unggahan berisi kekecewaan terhadap Puskesmas Telaga yang tak sempat melayani istrinya, Nur Hayati.
Arif menceritakan bahwa Nur beberapa hari sebelumnya baru saja selesai persalinan cesar. Namun kondisi Nur tak kunjung membaik.
Puncaknya, sekira pukul 01.30 Wita, Arif melarikan sang istri ke Puskesmas Telaga. Karena sepengetahuan dirinya, puskesmas tersebut buka 1x24 jam.
Alangkah kecewa Arif ketika sampai di puskesmas ia tak menemukan satu pun petugas nakes di sana.
Melihat sendal di depan pintu, Arif mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari orang di dalam ruangan.
Dalam kondisi istrinya mengerang kesakitan itu, Arif memutuskan untuk membawa istrinya ke RS Islam.
"Saya berusaha sendiri mengangkat istri saya ke atas bentor, tapi tidak bisa karena saat itu saya sendiri," kata Arif menggunakan aksen Gorontalo.
Beruntung ada seorang tukang bentor dan seorang laki-laki yang dalam kondisi mabuk, membantunya.
Putus asa, Arif pun melarikan istrinya ke RS Islam di Kota Gorontalo.
Tiba di RS Islam, jantung istrinya ketika dicek sudah melemah, hingga kemudian meninggal dunia.
"Kita pe istri dorang dokter deng perawat ada periksa dokter bilang kita pe istri so meninggal dunia (Istri saya ketika diperiksa dinyatakan meninggal)," tulis Arif pada postingannya.
Secara jelas, Arif membagikan curhatannya itu dengan mengunggah pula foto depan puskesmas tersebut. Saat dikutip TribunGorontalo.com, postingannya sudah dikomentari 4 ribu pengguna fb, dan dibagikan 6.9 ribu kali.
"Mohon kpda dinas kesehatan kab.gorontalo & DPRD KABUPATEN GORONTALO untuk di tindak lanjuti kasus ini jgn sampai ada korban lagi seperti istri saya," tutup Arif dalam postingannya.
Saat dikonfirmasi TribunGorontalo.com, Kepala Puskesmas Telaga, dr. Meliana Panter menggambarkan kondisi puskesmas di malam itu.
Menurutnya, sesuai jadwal piket jaga, ada 4 tenaga kesehatan (nakes) yang berjaga. Terdiri dari bidan 2 orang dan perawat 2 orang.
“Tidak benar petugas tidak ada karena di kita itu ada jadwal piket pada malam itu ada 4 petugas,” katanya, Sabtu (02/12/2023).
Hanya saja, ketika korban datang, 4 petugas ini dalam kondisi sibuk.
Meliana menyebutnya “di waktu yang tidak tepat”. Saat korban datang bersama suaminya, petugas yang mestinya berjaga di UGD, sedang mengambil tabung oksigen di ruang belakang puskesmas.
Jaraknya menurut Meliana cukup jauh dari UGD, sehingga bisa saja saat suami korban berteriak, suaranya tidak terdengar.
“Kalaupun informasinya yang bersangkutan berteriak, mungkin kalau dia berteriak di depan, tidak akan sampai ke belakang suaranya, apalagi depan jalan raya,” ungkapnya.
(TribunGorontalo.com/Herjianto, Husnul)