Minggu, 8 Maret 2026

Viral Nasional

Viral! Gara-gara Hp Disita Orang Tua, Bocah SD Nekat Akhiri Hidup

Bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) nekat mengakhiri hidupnya gara-gara handphone miliknya disita orang tua.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Viral! Gara-gara Hp Disita Orang Tua, Bocah SD Nekat Akhiri Hidup
tribunnews.com
Ilustrasi bocah pekalongan meninggal dunia 

TRIBUNGORONTALO.COM, Pekalongan – Bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) nekat mengakhiri hidupnya gara-gara handphone miliknya disita orang tua.

Insiden itu terjadi di Kabupaten Pekalongan Provinsi Jawa Tengah.

Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Isnovim saat dihubungi Tribunjateng.com, Kamis (23/11/2023), membenarkan peristiwa tersebut.

Menurut keterangan Isnovim, bocah kelas 5 SD itu awalnya bermain ponsel. Lantas orang tua bocah tiba-tiba meminta sang anak memberi handphone di tangannya itu.

Karena kesal, si bocah lalu mengurung diri dalam kamar.

Sewaktu sore hari, ibu korban pergi ke kamar untuk mengingatkan anaknya itu pergi mengaji. Namun pintu kamar terkunci dari dalam. Si bocah pun tak menyahut ketika namanya dipanggil.

Sang ibu pun mengintip dari celah pintu. Alangkah terkejutnya ia melihat tubuh anaknya sudah menggantung di jendela kamar.

Sontak ibu korban berteriak dan melompat ke dalam kamar melalui jendela.

Bocah itu kemudian dilarikan ke Puskesmas Doro 1. Tapi setiba di puskesmas, korban dinyatakan telah meninggal dunia.

"Dari hasil pemeriksaan ditemukan luka seperti jeratan dileher, pupil mata melebar, keluar fases dari anus korban, badan kaku dan pucat," jelas Isnovim, seperti dilansir TribunJateng.com, Kamis (24/11/2023).

Korban anak yang ceria

Pada kesempatan lain, Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan, Ipung Sunaryo mengungkap sudut pandang dari guru yang mengajar bocah SD tersebut.

"Keterangan dari para guru, korban anaknya ceria, di sekolah pun tidak ada persoalan apapun, dan bermain bersama teman-temanya," ucap Ipung.

Menurut Ipung peristiwa itu terjadi karena emosional sesaat anak, dan tanpa bisa memikirkan akibatnya.

Ipung mengatakan dirinya mendapatkan informasi tersebut pada malam harinya.

Atas kejadian tersebut, pihaknya prihatin dan berharap peristiwa tersebut adalah pertama dan terakhir yang terjadi di Kabupaten Pekalongan.

"Pasca kejadian ini, menjadi menjadi PR kita semua, tidak hanya guru, peran orangtua, lingkungan, sangat penting untuk sedikit demi sedikit memberikan edukasi yang ramah pada anak-anak, agar tidak candu dalam bermain handphone hingga melupakan segalanya," ungkapnya.

Baca juga: Psikolog Christy Nainggolan Ungkap 50 Persen Mahasiswa Gorontalo Punya Ide Bunuh Diri

Kenali 3 jenis stres yang bisa picu bunuh diri

Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengajak masyarakat mengenali jenis-jenis stres.

Mihrawaty S Antu mengatakan, stres bisa jadi pemicu tindakan seseorang yang mengakhiri hidupnya sendiri.

Dosen Jurusan Keperawatan UNG itu mengungkapkan, ada tiga jenis stres, yakni stres ringan, stres sedang, dan stres berat.

Stress ringan adalah kondisi dimana seseorang merasa tidak nyaman dan tertekan tapi masih dalam batas normal dan biasanya terjadi hanya dalam sehari atau kurang dari sehari. 

Contohnya, ketinggalan barang berharga, ketiduran ataupun mengalami kemacetan.

Adapun stress sedang adalah kondisi seseorang merasa nyaman dan tertekan secara terus menerus dalam kurun waktu beberapa hari. 

"Bunuh diri itu disebabkan karena adanya stres, dan stres tersebut normal ketika masih pada tahap stres ringan," ujarnya.

Kata Mihra, seseorang bisa muncul keinginan bunuh diri sebenarnya ketika masuk ke dalam stress sedang hingga stress berat.

"Orang-orang yang telah bunuh diri itu, sudah masuk ke dalam stress sedang hingga berat," ujarnya.

Stres sedang ini jika tidak segera dikontrol, juga menimbulkan beberapa penyakit, seperti penyakit sistem pencernaan.

Penyebab dari stres sedang ini bisa berupa beban kerja berlebihan, ataupun pembicaraan kesepakatan yang belum jelas, hingga harapan-harapan baru.

Ns. Mihrawati S Antu, Dosen Profesi Ners UNG tengah memaparkan jenis-jenis stress

"Harapan-harapan yang baru itu bisa buat orang stres sedang karena harapan itu tidak tercapai," jelas Mihra.

Kemudian, stres berat adalah kondisi seseorang yang mengalami stres berkepanjangan.

"Stress berat ini adalah kondisi yang sudah berminggu-minggu bahkan sudah menahun," lanjutnya.

Menurutnya, seseorang merasakan stress berat umumnya dapat dilihat dari masalah sistem pencernaan maupun masalah pada jantung dan pembuluh darah.

"Bahkan sudah panik, dia tidak terkontrol, lalu gemetar hingga ada yang pingsan," ungkapnya.

Penyebab dari stres berat bisa berupa hubungan anggota keluarga tidak harmonis.

"Survei menunjukkan bahwa hubungan manusia sangat mempengaruhi kondisi emosi dan pikiran seseorang," imbuhnya.

Mihra menegaskan, rata-rata orang mengalami stres berat tidak mampu dikontrol. Sehingga, orang tersebut bisa bunuh diri. 

"Kalau ada yang sudah kelihatan tanda-tanda stres seperti sering sakit kepala, wajah pucat, segera tanyakan apa masalahmu," ujarnya.

Bagaimana cara mengatasi stres?

Mengelola stres bisa melalui olahraga rutin, meningkatkan ibadah atau kegiatan spiritual, dan berbicara kepada orang terdekat atau orang terpercaya.

"Kalau stres tolong bicara, tolong berbagi. Tolong menyampaikan kepada orang lain. Jangan dipendam sendiri," pintanya.

Dia pun mengimbau masyarakat agar selalu peka terhadap orang-orang disekitarnya.

"Karena biasanya orang yang pendam masalah sendiri, mencari solusinya sendiri itu kadang terjebak sama pikirannya sendiri," ucap Mihra.

"Jika suatu saat ada masalah yang ia tidak temukan jalan keluarnya, dia memilih jalan akhir, yaitu mengakhiri hidupnya," tandasnya.


(TribunGorontalo.com/TribunJateng.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved