Andika Perkasa
Jenderal Andika Perkasa Sedih Kenang Sosok Teungku Bantaqiah, Ulama Aceh Dibantai Bersama 56 Santri
Teungku Bantaqiah bersama 56 santrinya pun tewas berlumuran darah usai ditembak secara keji.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Tgk-Bantaqiah-eks-Panglima-TNI-Jenderal-ffff.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Nama Tengku Bantaqiah, seorang ulama kenamaan asal Nagan Raya yang menjadi sorotan setelah disebut oleh Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa.
Baru-baru ini, Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa mengungkapkan sebuah momen paling menyedihkan selama dirinya berkarir di dunia militer.
Saat itu dirinya sedag bertugas di wilayah Aceh.
Nama Ulama Aceh, Teungku Bantaqiah ternyata membuat Jenderal Andika sedih dan berkaca-kaca saat menceritakan kenangannya di masa operasi militer Aceh. Hal itu lantaran dirinya mengenang pembantaian sadis yang harus dialami oleh Tgk Bantaqiah.
Andika menceritakan, saat dirinya ditugaskan ke perkampungan tempat Tgk Bantaqiah tinggal, ia diberi informasi bahwa Tgk Bantaqiah dianggap sebagai sosok yang melindungi, memberikan tempat bersembunyi ke kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Namun setelah dirinya menghabiskan waktu beberapa pekan, apa yang dia temui dari Tgk Bantaqiah tidak seperti informasi yang dia terima.
Ia mengatakan, sosok itu juga tidak menunjukkan kejanggalan atau gerak-gerik yang mencurigakan.
"Informasi saya mengatakan orang itu ada teungku, Tgk Bantaqiah namanya. Rupanya orang ini difabel, terlahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna," ungkap Andika dikutip dari YouTube CNN Indonesia, Selasa (11/7/2023).
"Begitu saya ketemu, saya jadi ragu. Apa iya. Karena tidak seperti yang saya dengar. Orang ini begitu lemah, sudah berusia dan difabel. Apa mungkin?" lanjutnya.
Sebaliknya, kenal dengan Tgk Bantaqiah justru membuat Andika dkk terbantu lantaran mendapatkan banyak informasi penting.
Beberapa tahun berselang, setelah Andika ditugaskan di lokasi lain, ia mendapatkan kabar bahwa Teungku Bantaqiah tewas.
Ia mengaku sangat terpukul dengan adanya kabar tersebut.
"Beberapa tahun kemudian saya dengar yang bersangkutan ini justru dihabisin, saya begitu mendengar beberapa tahun kemudian rasanya sedih saya,” ungkap Andika.
“Benar-benar sedih, sampai masih ingat ya sekarang," ucapnya sambil mata berkaca-kaca.
Ia masih tidak percaya seorang difabel seperti Tgk Bantaqiah dihabisi dengan tuduhan terlibat GAM.
Andika Perkasa pun yakin jika Teungku Bantaqiah dijadikan kambing hitam, dengan kata lain dipaksa menutupi jejak kelompok bersenjata.
Sebab dirinya sudah membuktikan sendiri saat tinggal di sana, tidak ada indikasi yang menunjukkan kalau Tgk Bantaqiah sebagaimana yang dicurigai selama ini.
Justru sosok tersebut membantu jalannya operasi Andika dkk di sana.
"Aduh, difabel seperti itu apa iya sih. Saya sendiri membuktikan saya tinggal disitu. Sekampung, saya (tim) hanya 10 orang. Bisa, ia justru membantu," pungkas Andika.
Lalu, siapa sebenarnya sosok Teungku Bantaqiah yang membuat Andika Perkasa berkaca-kaca dan tidak bisa melupakan kejadian pada masa operasi militer di Aceh?
Sosok Teungku Bantaqiah
Tengku Bantaqiah merupakan seorang ulama kenamaan asal Nagan Raya.
Hidupnya didedikasikan untuk menyebarkan ajaran Islam khususnya di wilayah Beutong Ateuh.
Memiliki garis keturunan ulama di Beutong, Tgk Bantaqiah juga mendirikan pesantren yang diberi nama Dayah Babul Mukarramah.
Ini merupakan upayanya melanjutkan tradisi keluarga dalam dakwah.
Pesantren yang dibangun pada tahuan 1980 di Desa Blang Meurandeh, Kecamatan Beutong Ateuh di Kabupaten Nagan Raya, Aceh itu berfokus pada pengajian ilmu tauhid dan tasawuf.
Kini, pensantren yang didirikan Tgk Bantaqiah itu sudah berganti nama menjadi Babul A'la An-Nurilah.
Dalam catatan yang dikutip dari laman Kontras Aceh, pria yang memiliki ciri-ciri kulit berwarna coklat serta pengikutnya terkenal vokal dalam memprotes kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat Aceh.
Ia juga menolak untuk bergabung dengan Majelis Ulama Indonesia Cabang Aceh, setelah lembaga tersebut menganggap kelompoknya sesat.
Namun, pada tahun 1990, terjadi mediasi antara MUI dan Bantaqiah yang berujung MUI memohon maaf atas perbuatannya kepada Tengku Bantaqiah.
Nasib buruk menghampiri Tengku Bantaqiah di era pemerintahan Soeharto.
Pada tahun 1992, Bantaqiah dituduh sebagai Menteri Urusan Pangan dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Tuduhan itu membuatnya dijebloskan ke penjara selama 20 tahun.
Tgk Bantaqiah akhirnya dibebaskan setelah masyarakat meminta kepada Presiden ketiga RI, BJ Habibie saat kedatangannya ke Aceh.
Tragedi memilukan dialami Tgk Bantaqiah pada 1999.
Ia dituduh menyimpan alat logistik yang berkaitan dengan GAM di pesantrennya.
Namun, hingga kini tuduhan itu tidak pernah terbukti.
Pada 23 Juli 1999, pasukan gabungan yang berada di bawah kendali operasi (BKO) Korem 011/Liliwangsa yang terdiri dari pasukan Yonif 131 dan 133 dengan didukung satu peleton pasukan dari Batalyon 328 Kostrad tiba di pemukiman warga di Beutong Ateuh melakukan penyerangan.
Sebanyak 215 personel dibawah pimpinan Letkol. Heronimus Guru dan Letkol Sudjono sebagai pengawas operasi itu terus bergerak maju mendekati pesantren Tgk Bantaqiah dan melakukan pembantaian.
Tgk Bantaqiah bersama 56 santrinya pun tewas berlumuran darah usai ditembak secara keji.
Sementara sejumlah santri lainnya juga mengalami luka karena tembakan yang dilakukan secara membabi buta.
Huru-hara yang terjadi pada siang hari itu merubah suasana menjadi sunyi dan menyisakan trauma bagi warga Beutong Ateuh.
Peristiwa pembantaian warga sipil ini pun dikenal dengan Tragedi Beutong Ateuh atau Tragedi Teungku Bantaqiah.
Sumber: SerambiNews.com