Lebaran Ketupat Gorontalo
Kendaraan Akan Diderek Polisi Jika Nekat Parkir Liar di Pusat Perayaan Lebaran Ketupat Gorontalo
Karena itu, pihak kepolisian mengimbau pengendara pada perayaan Lebaran Ketupat Gorontalo tahun ini, tak memarkir kendaraan di bahu jalan. Terutama di
Penulis: Husnul Puhi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2842023_lebaran-ketupat-Gorontalo______.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Biang kerok kemacetan saat lebaran Ketupat Gorontalo adalah maraknya parkir liar di bahu jalan.
Rata-rata pelakunya adalah orang-orang yang berkunjung ke pusat perayaan Lebaran Ketupat Gorontalo di Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo.
Karena itu, pihak kepolisian mengimbau pengendara pada perayaan Lebaran Ketupat Gorontalo besok, Sabtu (29/4/2023), tak memarkir kendaraan di bahu jalan. Terutama di sepanjang Kampung Jawa.
“Jadi perlu menjadi perhatian masyarakat, diharapkan tidak ada yang memarkir kendaraannya baik roda dua maupun roda empat di bahu jalan, apalagi di badan jalan,” imbau Kabid Humas Polda Gorontalo, AKBP Desmont Harjendro, Jumat (28/4/2023).
Saran Wadirlantas Polda Gorontalo, masyarakat memarkir kenderaan di halaman rumah atau di lokasi parkir. Agar tidak dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Demi tertibnya lalu lintas dan menjamin kondusifitas nanti, kata dia Polda Gorontalo bersama instansi terkait akan menurunkan ratusan personel.
Lanjut Desmont, bagi warga yang ingin melaksanakan lebaran ketupat di Kampung Jawa, perlu memperhatikan informasi jalur lalu lintas sebagaimana yang telah disebarkan pihak kepolisian Gorontalo.
Rute pertama, pengendara menuju Limboto, melewati Jalan A Wahab di Simpang empat traffic light gamma taruna, belok kiri melalui Jalan Reformasi sampai di simpang empat traffic light patung berdoa menuju Kampung Jawa melewati Jalan Trans Sulawesi, sampai di bundaran Tugu Ketupat belok kiri menuju Bundaran Patung Habibie.
Arus balik kendaraan roda dua, roda tiga dan empat, melewati Jalan Trans Sulawesi menuju Tugu Ketupat, arus lalu lintas dialihkan menjadi dua arus yakni :
1. Arus Kendaraan belok kiri menuju Jalan Daenaa tembus Gorontalo Outer Ring Road, (GORR).
2. Arus kenderaan jalan terus menuju Pone melewati Jalan Samaun Pulubuhu sampai Bundaran Adipura melewati menara Limboto menuju Simpang Lima Telaga.
Selanjutnya arus lalu lintas dari arah kota Gorontalo yang melewati Kecamatan Batudaa dan Bongomeme diarahkan melalui Jalan Batudaa, untuk arus balik dari Bongomeme menuju Kota Gorontalo melewati jalan yang sama.
Asal Usul Perayaan Ketupat
Lebaran atau Hari Raya Ketupat sudah menjadi tradisi turun-temurun di Indonesia.
Lebaran Ketupat dilakukan setiap satu minggu, setelah Hari Raya Idul Fitri.
Masyarakat Jawa yang pada umumnya mengenal dua kali pelaksanaan lebaran, yakni Idul Fitri dan Lebaran Ketupat.
Idul Fitri dilaksanakan pada 1 Syawal, sementara Lebaran Ketupat dilaksanakan satu minggu kemudian atau tepatnya pada tanggal 8 Syawal.
Tradisi Lebaran Ketupat diselenggarakan setelah menyelesaikan Puasa Syawal selama 6 hari.
Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo penyebar agama Islam di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah ‘bakda’ kepada masyarakat Jawa, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.
Kata ‘bakda’ sendiri dalam bahasa Jawa punya arti setelah atau sesudah.
Bakda Lebaran dimulai dari pelaksanaan salat Ied 1 Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan.
Sementara, Bakda Kupat dirayakan seminggu sesudah lebaran.
Saat lebaran ketupat, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat untuk diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada orang yang lebih tua.
Tujuan lebaran ketupat adalah sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.
Versi lain menyebutkan, di masa lalu lebaran ketupat merupakan sebuah tradisi memuja Dewi Sri, Dewi Pertanian dan Kesuburan.
Dewi Sri dianggap sebagai pelindung kelahiran, kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran.
Ketika ajaran Islam mulai masuk ke Indonesia, tradisi tersebut mengalami akulturasi dan pengubahan makna.
Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewi padi atau kesuburan, tapi hanya sebagai simbol yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.
Lebaran ketupat diyakini merupakan tuntunan yang luhur untuk menjadi pribadi lebih baik.
Tradisi ini juga merupakan salah satu budaya keislaman di tanah Jawa yang tetap dipertahankan dan tidak punah eksistensinya.
Ketupat di Gorontalo
Setiap tahun kawasan kampung Jawa di Kabupaten Gorontalo, menjadi tujuan masyarakat dalam merayakan tradisi Lebaran Ketupat.
Perayaan ini biasanya digelar pada 8 Syawal atau satu minggu setelah lebaran Idul Fitri.
Lalu, tahukah kamu kapan pertama kalinya tradisi ini dirayakan di Gorontalo?
Dalam jurnal yang ditulis oleh Muh Arif dan Melki Y Lasantu menyebutkan, jika perayaan lebaran ketupat di Gorontalo dimulai sejak keturunan Jawa-Tondano (Jaton) bermigrasi ke Gorontalo pada 1900-an.
Jurnal berjudul Nilai Pendidikan Dalam Tradisi Lebaran Ketupat Masyarakat Suku Jawa Tondano di Gorontalo itu menyebut, para keturunan Jaton itu migrasi dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
Mereka kini tersebar di Desa Kaliyoso Kecamatan Dungaliyo, lalu di Roksonegoro, Kecamatan Tibawa, Mulyonegoro di Kecamatan Pulubala, dan Yosonegoro di Kecamatan Limboto Barat. Empat desa ini berada di Kabupaten Gorontalo.
“Pada perayaan ini, umumnya masyarakat menyediakan makanan yang terbuat dari beras seperti ketupat, lontong, soto ataupun coto makassar, serta beberapa menu sajian khas lainnya seperti nasi bulu (nasi lemak yang dimasak didalam bambu), dodol, kue mendut, serabi, koa, daging ayam dan sapi,” tulis keduanya dalam jurnalis tersebut.
Mereka menyebut, sebelum nanti dibagikan kepada masyarakat, makan-makanan tersebut sebelumnya didoakan di Masjid.
Karena itu, lebaran ketupat ini tidak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Gorontalo, namun juga oleh masyarakat pendatang dari daerah lain, misalnya Manado, Bitung, Palu, serta Makassar.
Warga keturunan Jaton ini disebut sebagai keturunan Kiai Modjo atau beberapa menyebut Kyai Modjo dan Kyai Madja yang pada 1829 diasingkan oleh Belanda ke tepi Danau Tondano.
Letaknya di tengah-tengah Minahasa di jazirah utara pulau Sulawesi. Daerah ini juga menjadi daerah asal dari Pasukan Tulungan pimpinan Mayor Dotulong pada akhir Perang Jawa (1825-1830).
Basri Amin, Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo mengungkapkan, bahwa lebaran ketupat di Gorontalo sebetulnya tidak bisa lepas dari “Kampung Jawa”. Meski sebelumnya lebaran ini sudah menjadi tradisi panjang di banyak komunitas Islam.
Lebaran ketupat kata dia memiliki nilai kearifan lokal yang mengakar dan kuat, serta senantiasa terjaga dalam bertetangga dan bermasyarakat.
Hal itu mengandung pesan moral sebagai kerendahan hati dengan berjiwa sosial. (*)