Wisata Gorontalo

Berlibur ke Danau Limboto Sambil Sensus Burung Air Asia di Gorontalo

Sembari menikmati panorama Danau Limboto, mahasiswa dan aktivis ini juga melakukan sensus burung air asia atau Asian Waterbird Census (AWC).

Penulis: Risman Taharudin |
ist
Cangak merah dan sejumlah burung air di Danau Limboto, Gorontalo. (KOMPAS.com/ROSYID AZHAR) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sejumlah mahasiswa dan aktivis lingkungan pagi ini menghabiskan waktu di Danau Limboto Desa Timuato, Kecamatan Talaga Biru Kabupaten Gorontalo, Sabtu (4/2/2023). 

Sembari menikmati panorama Danau Limboto, mahasiswa dan aktivis ini juga melakukan Sensus Burung Air Asia atau Asian Waterbird Census (AWC).

Burung air adalah burung yang secara ekologis bergantung pada keberadaan lahan basah. 

Danau Limboto yang secara administratif berada di wilayah Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo, menjadi surganya jenis burung ini. 

Burung air ini hidup dan bergantung dari ekosistem danau. Mereka mencari makan di danau yang kini berkategori kritis tersebut. 

Baca juga: Sensus Burung Air di Danau Limboto, hanya 10 dari 21 Jenis yang Teramati

AWC merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bersifat global, yaitu kegiatan tahunan dengan basis jaringan kerja yang bersifat sukarela.

“AWC Indonesia adalah sensus burung air Asia yang dilaksanakan di Indonesia yang bertujuan untuk mendukung pemutakhiran data serta peningkatan kapasitas dan penyadartahuan publik tentang nilai penting burung air dan habitatnya di Indonesia,” kata Debby Hariyanti Mano, pegiat lingkungan dari perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA), Sabtu (3/2/2023).

Menurut Debby Mano, sensus burung ini menjadi salah satu perangkat bagi upaya konservasi burung air serta lahan basah sebagai habitatnya dengan melibatkan para sukarelawan.

Ragil Satriyo Gumilang Koordinator Pelaksana AWC Indonesia juga menjelaskan data dan informasi yang masuk dari berbagai daerah ini kemudian digunakan sebagai rujukan estimasi populasi burung air secara global maupun untuk keperluan pengelolaan di tingkat nasional/lokal, tidak kurang dari 5 juta km2 .

Baca juga: Sensus Burung Air Asia Digelar Januari-Februari, Termasuk di Gorontalo

“Status sejumlah 871 jenis burung air kemudian dikaji secara ilmiah untuk menentukan kegiatan pengelolaannya,” kata Ragil.

Di Indonesia, data mengenai populasi digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan beberapa Taman Nasional penting, penentuan lokasi penting untuk Konvensi Ramsar dan East Asian Australasian Flyway Partnership serta penentuan status jenis-jenis yang dilindungi.

Sejak tahun 1986, Wetlands International Indonesia/Yayasan Lahan Basah telah mengoordinasi pelaksanaan program Asian Waterbird Census (AWC) di seluruh Indonesia.

Pada tahun 2023, kegiatan citizen science AWC Indonesia berkolaborasi dengan kegiatan Monitoring Burung Pantai Indonesia (MoBuPi) serta secara bersama-sama diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wetlands International Indonesia/Yayasan Lahan Basah, Yayasan Ekologi Satwa Alam Liar Indonesia, Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia, Burungnesia, dan Burung Laut Indonesia.

Sensus burung air di Danau limboto, Gorontalo diikuti sekitar 40 orang yang berasal dari Perkumpulan Biota, jurnalis, mahasiswa dan pengajar dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG). (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved