Rabu, 4 Maret 2026

Dosen Arsitek Sam Ratulangi Sebut Banjir Manado Karena Kerusakan Lingkungan

Sebab menurut Pingkan Peggy Egam, Dosen Teknik Arsitektur Universitas Sam Ratulangi, banjir Manado diakibatkan oleh rusaknya lingkungan.

Tayang:
zoom-inlihat foto Dosen Arsitek Sam Ratulangi Sebut Banjir Manado Karena Kerusakan Lingkungan
TribunGorontalo.com
Pingkan Peggy Egam, Dosen Teknik Arsitektur Universitas Sam Ratulangi. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Pemerintah Kota Manado diminta segera melakukan perbaikan lingkungan usai wilayah itu diterjang banjir parah. 

Sebab menurut Pingkan Peggy Egam, Dosen Teknik Arsitektur Universitas Sam Ratulangi, banjir Manado diakibatkan oleh rusaknya lingkungan.

"Sepertinya bencana ini akan terus berulang apabila tidak ada tindakan perbaikan lingkungan," ujar Peggy dikutip dari Tribun Manado, Jumat (28/1/2023).

Banjir Manado diketahui merendam lebih dari 40 titik. Tidak cuma banjir, longsor juga rupanya terjadi di berbagai titik. 

Menurut Peggi, hujan memang jadi pemantik banjir. Namun sebabnyak karena lingkungan Manado yang tidak bisa menampung air sebanyak itu. 

Limpahan air dari berbagai sungai akhirnya susah dibendung hingga terjadilah bencana tersebut. 

Pengamat Tata Kota di Sulawesi Utara ini menyebutkan, di Sulawesi Utara terdapat 8 DAS yang masuk dan mengalir di wilayah kota Manado termasuk 5 sungai besar.

Saat hujan terjadi, terjadi luapan air di mana-mana. Belum lagi aliran air yang terganggu karena sampah plastik. 

Sebetulnya kata dia, banjir Manado kerap terjadi. Sudah menjadi langganan terutama pada awal-awal tahun. 

“Apabila kita menarik ke belakang dengan referensi data yang ada, titik-titik lokasi banjir saat ini juga merupakan lokasi titik-titik banjir pada waktu lalu.” ungkap Peggi. 

Karena itu itu menyimpulkan, bencana banjir Manado beserta longsor, tidak dapat dipisahkan oleh menurunnya kondisi lingkungan fisik maupun lingkungan non fisik.

Diperparah dengan perilaku masyarakat dalam menjaga dan menghargai lingkungan.

Belum lagi ditambah dengan Kota Manado yang tidak bertambah luasan, namun justru semakin sesak dengan penduduk. 

“Akibatnya terjadi pengalihan fungsi lahan, penyempitan saluran air, pengalihan jalur aliran air akibat intervensi manusia dan lain-lain," tuturnya.

Banjir Manado terjadi sejak Jumat 27 Januari 2023 kemarin. Dikutip dari Tribun Manado, banjir melanda 6 kecamatan; Kecamatan Paal 2, Kecamatan Wanea, Kecamatan Bunaken, Kecamatan Wenang, Kecamatan Singkil, Kecamatan Tikala.

Informasinya, kini ada 4 korban jiwa, serta puluhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved