Breaking News
Minggu, 8 Maret 2026

Indonesia Diterjang 96 Bencana Alam di Awal 2023, Saatnya Siapkan Mitigasi

Hal ini diakui deputi bidang bencana BNPB, Prasinta Dewi dalam acara talk show yang digelar Perkumpulan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia

Tayang:
zoom-inlihat foto Indonesia Diterjang 96 Bencana Alam di Awal 2023, Saatnya Siapkan Mitigasi
BMKG Gorontalo
Info gempa Gorontalo Kamis pagi. Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo diguncang gempa bumi berkekuatan M4.9 Skala Richter pada Kamis 12 Januari 2023 pukul 03.55 Wita. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, di tahun 2023 yang baru berlangsung 19 hari sampai kemarin Kamis (19/1/2023), tercatat telah terjadi 96 bencana alam di Indonesia. 

Artinya, dalam satu hari telah terjadi beberapa bencana alam di berbagai wilayah. 

Hal ini diakui deputi bidang bencana BNPB, Prasinta Dewi dalam acara talkshow yang digelar Perkumpulan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Kegiatan ini bertajuk “Mitigasi Bencana Berbasis Konservasi Ekosistem dan Tata Ruang” sebagai rangkaian acara Konferensi Nasional Jurnalis Lingkungan Hidup (KNJLH) yang digelar pada Jumat, (20/1/2023).

Baca juga: AJI Gorontalo dan SIEJ Nobar Film Angin Timur Bersama Warga Botubarani

Dewi menjelaskan, semua jenis bencana ada di Indonesia. Langkah yang dilakukan BNPB untuk membantu masyarakat adalah dengan memberi penguatan tentang strategi mitigasi bencana.

“BNPB membantu masyarakat dengan mengingatkan dan mengajak masyarakat Indonesia untuk paham bahwa mereka tinggal di wilayah ancaman,” tegas Dewi.

Katanya, perlu terus dilaksanakan forum pengurangan risiko bencana, pelatihan, dan edukasi. Salah satunya adalah dengan membangun keluarga tangguh bencana dan desa tangguh bencana.

Salah satu kegiatan mitigasi bencana yang saat ini tengah berjalan adalah investasi pengurangan risiko bencana yang telah terlaksana sejak 2020 dan direncanakan hingga 2045 mendatang.

Investasi ini terbagi dalam beberapa sektor diantaranya investasi struktural, investasi kultural, investasi sumber daya alam, investasi ilmu pengetahuan dan teknologi, lalu investasi keuangan.

Baca juga: Gempa M4.1 dan M2.1 di Gorontalo - Sulteng

“Seperti kita tahu, setelah bencana banjir di Cianjur kemarin puluhan miliar telah dihabiskan untuk renovasi kembali, di sinilah mitigasi perlu dimulai. Akan sangat bijaksana jika sebelum mulai membangun kembali, dengan mengacu pada mitigasi. Dilihat dari kebijakannya, tata ruangnya, dampak-dampaknya antisipasi akan timbulnya bencana kembali,” jelas Dewi.

Dalam kegiatan ini SIEJ berkolaborasi dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LKTL). 

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Gita Syahrani menyebutkan, pihaknya memiliki potensi besar meningkatkan hilirisasi produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial dengan nilai tambah yang besar. 

“Kita punya program yang namanya ekonomi lestari, di mana kita bisa mewujudkan pola pikir baru tentang konservasi dan upaya menjaga alam yang nyatanya tidak sulit untuk dilakukan, dan peran anak muda untuk membangun daerahnya sendiri,” ujar Gita. 

Gita mencontohkan, Indonesia memiliki potensi madu hutan yang harganya lebih dari 15 milyar USD, atau kelor yang harga globalnya mencapai 10 milyar USD. 

“Tapi hal itu tidak bisa diwujudkan kalau hutannya tidak terjaga,” jelas Gita.

Melihat permasalahan dan peluang yang ada, kata Gita, pada 2021 beberapa kabupaten yang tergabung dalam LTKL telah menyampaikan targetnya. 

Misalnya berkomitmen mempertahankan fungsi ekologis hutan gambut, dan ekosistem penting 50 persen dari yang ada sekarang dengan cara-cara yang inovatif.

“Kalau kita mau membicarakan kabupaten tangguh bencana, itu mencoba menarik anak muda, membuat produk dan jasa yang keren-keren.” tutur Gita.

Ia mencontohkan hal di Kabupaten Siak. Di daerah ini ada satu perusahaan bernama Alam Siak Lestari yang dibawa anak-anak muda di sana. 

“Dan ini mencoba menerjemahkan visi Siak Hijau yang mencoba menjaga supaya Siak Tidak terbakar lagi,” ungkap Gita.

Kesadaran akan potensi alam dan pentingnya menjaga kondisi lingkungan merupakan salah satu hal penting dalam upaya mitigasi bencana. 

Pemerintah Kabupaten Siak melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi Afit Lamakarto menyatakan komitmen Kabupaten Sigi untuk menjadi kabupaten lestari.

Menurutnya, Pemda dan masyarakat Sigi sudah memiliki masyarakat yang sangat paham dengan kondisi lingkungannya. 

“Bahkan kita ditetapkan menjadi wilayah taman nasional yang demikian luas, hutan lindung dan sebagainya. Dan masyarakat sadar bahwa itu adalah hal yang baik,” ujarnya. 

Misalnya saja, ketika bencana menimpa di Sigi. Afit menerangkan, masyarakat mendorong perlu adanya upaya konservasi. 

“Jika kawasan ini tidak ditetapkan sebagai wilayah konservasi, maka sangat memungkinkan akan ada memakan lebih banyak korban jiwa,” katanya.

Upaya lain yang dilakukan, yaitu berupa inovasi penanaman bamboo brinjong di aliran sungai. 

“Untuk mitigasi bencana likuifaksi dengan melindungi dan memperkuat struktur tanah untuk mencegah terjadinya longsor kembali,” Afit menjelaskan.

Kaum muda di wilayah Sigi merasakan energi serupa. Hal ini terlihat dari lahirnya Yayasan Kompas Peduli Lingkungan (KOMIU) Sigi yang melakukan konservasi, dengan tujuan agar hutan mereka tetap terjaga.

Divisi Konservasi KOMIU Sigi, Yulia Astuti menyampaikan upaya yang mereka lakukan. 

“Yayasan Komiu dalam salah satu programnya melakukan inventarisasi pohon yang ada di hutan Ranjuri Sigi. Dimana hutan Kanjuri ini merupakan hutan yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Karena kita perlu mencari tahu dulu apa saja yang kita punya, untuk kemudian dijaga,” jelasnya.

Menurut Yulia, akses kontribusi anak muda dalam memitigasi bencana masih terbatas. Meski demikian, mereka mendapat fasilitas dari jejak.in. Menurutnya jejak.in memberi peluang kemudahan agar anak muda tidak terbatas kesempatan untuk ikut mengambil peran.

“Jasa marketplace yang kita punya berisi program-program hijau yang dilakukan dengan kerja sama berbagai mitra. Dan melalui market place hijau ini, siapapun dapat berkontribusi untuk menjaga lingkungan,” pungkas Arfan. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved