Brigadir J

Jelang Persidangan Ferdy Sambo dkk, Pengacara Brigadir J Minta Surat Dakwaan Harus Setajam Pisau

Pasalnya, pengacara keluarga Brigadir J yakin aksi Ferdy Sambo dkk bukan pembunuhan spontan melainkan pembunuhan berencana sesuai dakwaan primair.

Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
YouTube KOMPASTV
Eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo setelah dihadirkan dalam proses penyerahan tersangka dan barang bukti tahap II perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J dari Polri ke Kejaksaan Agung di Gedung Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Jakarta Selatan pada Rabu (5/10/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM - Kuasa hukum keluarga korban Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J) berharap dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) terhadap para tersangka lebih tajam daripada pisau.

Harapan ini disampaikan menjelang digelarnya persidangan perkara pembunuhan berencana Brigadir J yang menjerat eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo.

Adapun hari ini, Senin(10/10/2022), Kejaksaan Agung (Kejagung) akan melimpahkan surat dakwaan perkara pembunuhan berencana Brigadir J ini ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan untuk segera disidangkan.

Kuasa Hukum Keluarga Brigadir J, Martin Lukas Simanjuntak menegaskan bahwa surat dakwaan JPU dalam persidangan Ferdy Sambo dkk nanti bisa setajam lebih tajam daripada pisau.

Baca juga: Bakal Dampingi secara Morel, Pengacara Brigadir J: Kesaksian Bharada E yang Paling Bisa Dipercaya

"Surat dakwaan haruslah setajam lebih tajam daripada pisau dengan mengikuti ketentuan, cermat, jelas, dan lengkap," ujar Martin, Senin, seperti dilansir TribunGorontalo.com dari kanal YouTube KOMPASTV.

Martin juga mengatakan bahwa pihaknya berharap proses peradilan Ferdy Sambo dkk atas kasus tewasnya Brigadir J ini bisa mengerucut pada dakwaan primair yakni Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati.

Mengingat Ferdy Sambo dkk dijerat dengan dakwaan primair Pasal 340 KUHP subsidair Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP tentang penyertaan.

"Surat dakwaan ini harus bisa mengerucut nantinya ke arah dakwaan primair yaitu Pasal 340 KUHP." ucap Martin.

Baca juga: Apa Itu Dakwaan Kumulatif? Dakwaan Khusus untuk Ferdy Sambo yang Jadi Tersangka di 2 Kasus Yoshua

Pasalnya, lanjut Martin, pihaknya percaya bahwa kasus penembakan di rumah dinas Ferdy Sambo yang menewaskan Brigadir J ini termasuk tindak pidana pembunuhan berencana.

"Karena kami percaya ini bukan pembunuhan spontan, ini merupakan pembunuhan yang sifatnya adalah perencanaan," tegas Martin.

"Ferdy Sambo dan kawan-kawan tahu betul bahwa apa yang mereka rencanakan itu dan apa yang mereka tunaikan, kecuali mungkin Bharada Eliezer, adalah permufakatan jahat dan memang bertujuan untuk menghilangkan nyawa almarhum dalam hal ini," sambungnya.

Lebih lanjut, Martin menyinggung terkait motif Ferdy Sambo merencanakan pembunuhan Brigadir J yang hingga kini masih simpang siur.

Baca juga: Keluarga Brigadir J Siapkan 11 Saksi di Persidangan Lawan Ferdy Sambo, Beri Keterangan tentang Ini

Untuk mencegah dugaan kasus pelecehan seksual terhadap Putri Candrawathi istri Ferdy Sambo yang telah dihentikan penyelidikannya mencuat kembali, Martin berharap JPU dapat berempati kepada Brigadir J.

Sebab, sebut Martin, tanpa empati dari JPU sebagai pembela korban, proses peradilan untuk memulihkan nama baik Brigadir J dan keluarga mendiang akan menjadi sia-sia.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved