Ada 1.481 Kelahiran di Gorontalo Utara Sejak Januari 2022

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan melalui Sub Koordinator Program Kesehatan Keluarga dan Gizi, Maya Oktaviany Rahmola di Kwandang, Rabu (5/20

Penulis: redaksi | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/free
Ilustrasi ibu hamil. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Sepanjang Januari hingga September 2022, terjadi 1.481 kelahiran di Gorontalo Utara

Sayangnya, dari 1.481 kelahiran di Gorontalo Utara, terjadi 4 kasus kematian ibu pasca melahirkan (maternal). Angka itu tercatat setidaknya hingga akhir triwulan 3 tahun 2022.

Namun rupanya, dua di antaranya merupakan kasus kematian yang terjadi di luar daerah.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan melalui Sub Koordinator Program Kesehatan Keluarga dan Gizi, Maya Oktaviany Rahmola di Kwandang, Rabu (5/20/2022).

“Hanya saja mereka ber-KTP di Kabupaten Gorontalo Utara, kemudian menikah menetap di luar daerah dan terjadi kasus kematian maternal, maka tercatat sebagai kematian maternal di wilayah Gorontalo Utara,” jelasnya.

Maya menjelaskan telah diatur melalui sistem pelaporan kematian maternal, di mana kasusnya tercatat bukan berdasarkan alamat domisili, melainkan alamat yang tercantum di KTP.

“Dua kasus di luar daerah itu, hingga kini kami belum menerima data resmi terkait riwayat kehamilan dan kelahiran. Sehingga sulit mengidentifikasi penyebab kematian,” ungkap Maya Rahmola.

Di Gorontalo Utara tercatat ada 1.481 kelahiran yang dihitung sejak Januari hingga September 2022.

Dengan demikian rasionalitas Angka Kematian Ibu (AKI) di Gorontalo Utara tahun ini berada di kisaran angka 270 per 100.000 kelahiran.

“Untuk kematian yang memang terjadi di wilayah Gorontalo Utara, kami akan melakukan advokasi untuk melahirkan nota kesepahaman dengan Palang Merah Indonesia (PMI) terkait penyediaan stok darah. Mengingat kasus kematian maternal banyak disebabkan perdarahan,” ujar Maya Rahmola.

Sebelumnya Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara menggelar Audit Maternal Parietal Surveilans Respon (AMPSR) pada Selasa. Kegiatan itu menghadirkan dokter ahli kandungan dan dokter ahli anak guna mengkaji kasus kematian ibu melahirkan serta kematian bayi dan balita.

Dari hasil pertemuan tersebut diketahui, selang Januari hingga September 2022 ada 4 kematian Ibu melahirkan pasca bersalin (maternal). Penyebab utamanya adalah kekurangan volume cairan akibat perdarahan.

Pada bayi baru lahir (neonatal) terjadi 19 kasus kematian, serta 16 kematian bayi pada rentang usia 1-12 bulan. Berat badan lahir rendah serta penyakit Pneumonia masih mendominasi penyebab kematian.

Dari hasil pertemuan tersebut lahir sejumlah rekomendasi sebagai solusi permasalahan. Di antaranya dengan mengoptimalkan sistem rujukan melalui aplikasi Sisrute, sebuah sistem informasi untuk memudahkan proses rujukan pasien.

Juga melakukan kalibrasi alat kesehatan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit.(*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved