Asprov PSSI Gorontalo Tak Ingin Sepak Bola Indonesia Kena Sanksi FIFA
Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Gorontalo tak ingin sepak bola Indonesia dikenai sanksi oleh Federation International Football Association (FIFA)
Penulis: Husnul Puhi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Lahmudin-Hambali-menginstruksikan-panitia-pelaksan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Gorontalo tak ingin sepak bola Indonesia dikenai sanksi oleh Federation International Football Association (FIFA) pasca insiden Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).
"Kita berharap hal itu tidak terjadi," kata Lahmudin Hambali, Ketua Asprov PSSI Gorontalo kepada Tribun Gorontalo, Rabu (5/10/2022).
Pasalnya, menurut Lahmudin saat ini sepakbola Indonesia sedang naik daun. Hal itu terlihat dari Timnas Indonesia berhasil masuk ke Piala Asia, setelah 15 tahun absen.
Dia mengatakan, sepak bola di Indonesia perlu dikembangkan dan ditata lebih baik.
"Seluruh Asprov Indonesia yakin dan percaya Ketua Umum PSSI dapat mengambil langkah-langkah baik, agar Indonesia tidak diberikan sangsi oleh FIFA," ujarnya.
Disamping itu Lahmudin juga berharap Menteri Pemuda Olahraga, PSSI, dan seluruh pemangku-pemangku kepentingan agar dapat memperjuangkan sepak bola di Indonesia.
"Kami doakan, semoga para pemangku kepentingan itu tetap dalam keadaan sehat dan semangat," pungkasnya.
Diketahui, Menkopolhukam Mahfud MD baru-baru ini menyampaikan Liga 1,2 dan 3 diberhentikan untuk sementara waktu.
Pemberhentian liga-liga di Indonesia itu, sesuai permintaan Presiden RI.
Sebagai Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), Mahfud mengatakan, pemberhentian kompetisi sepak bola Liga Indonesia itu merupakan penekanan dari TGIPF dan telah disetujui oleh Menteri Pemuda dan Olahraga.
"TGIPF ini juga menekankan dan disetujui oleh Menpora, bahwa semua kegiatan yang berpayung PSSI, terutama Liga 1, 2, dan 3 supaya dihentikan," ujar Mahfud dalam keterangan pers, dikutip Kompas.com, Selasa (4/10/2022).
Menurut Mahfud, penghentian sementara itu berlangsung sampai Presiden Joko Widodo menyatakan kondisi persepakbolaan di Indonesia bisa dinormalisasi.
Bentuk normalisasi itu akan bergantung pada hasil kerja TGIPF yang saat ini sedang berjalan. Dimana, Tim TGIPF tersebut akan bekerja selama dua minggu sampai 1,5 bulan, dengan anggota sebanyak 13 orang dan dipimpin langsung Mahfud MD. (*)