Rabu, 11 Maret 2026

Ambisi Manchester United Bakal Sia-sia, Ini 5 Alasan Real Madrid Sulit Lepas Casemiro

Dalam dua hari terakhir, gelandang bertahan Real Madrid, Casemiro dikabarkan berada dalam target Manchester United pada musim panas ini.

Tayang:
zoom-inlihat foto Ambisi Manchester United Bakal Sia-sia, Ini 5 Alasan Real Madrid Sulit Lepas Casemiro
Twitter
Casemiro saat pertandingan final UEFA Super Cup 2017, Real Madrid vs Manchester United (kiri) dan UEFA Super Cup 2022 

TRIBUNGORONTALO.COM - Baru-baru ini, gelandang bertahan Real Madrid, Casemiro santer dikabarkan berada dalam target Manchester United pada musim panas ini.

Dikutip dari Fabrizio Romano, Manchester United tengah mengejar kesepakatan dengan Real Madrid atas Casemiro.

Bahkan Manchester United mempersiapkan tawaran yang bisa mencapai 80 juta euro, agar Real Madrid bersedia melepas Casemiro pada musim panas.

Dapat dimengerti, Setan Merah ingin mendatangkan gelandang kelas dunia, setelah mereka gagal meyakinkan Frenkie De Jong.

Tetapi ambisi Manchester United untuk mendapatkan Casemiro sepertinya bakal sia-sia.

Berikut lima alasan, Real Madrid enggan melepas Casemiro setidaknya pada musim panas ini.

Pemain Vital

Sejak era Zinedine Zidane, Casemiro sudah menjadi pemain vital Real Madrid.

Ia seperti benteng fundamental, untuk menjaga posisi raja tetap berdiri nyaman.

Itu terbukti, ketika sang pemain sempat absen karena cedera, pertahanan Los Blancos menjadi bermasalah.

Masalah kedua, tak ada pemain yang bisa menggantikannya. Dani Ceballos sempat memerankan posisi Casemiro di era pelatih Santiago Solari. Tetapi, pemain Spanyol itu terlalu offensiv.

Carlo Ancelotti mengganti Casemiro di laga perempat final melawan Chelsea
Carlo Ancelotti mengganti Casemiro di laga perempat final melawan Chelsea 

Sementara, Julen Lopetegui, sempat menggunakan Kroos untuk mengisi tempat Casemiro.

Sang pemain pun kurang nyaman di posisi tersebut. "Saya bukan Casemiro," kata Kroos, dikutip Marca.

Lalu saat Casemiro cidera, Kroos juga kembali mengambil alih peran ini di bawah Zidane, Real Madrid memenangkan delapan pertandingan dan seri enam dari 14 di mana ia menggantikan Casemiro.

Beberapa kesempatan juga menempatkan Mateo Kovacic.

Hasilnya? Los Blancos mengalahkan Sporting CP 2-1 di Liga Champions dan Atletico 3-0 dalam derby LaLiga Santander terakhir di Estadio Vicente Calderon dalam sistem itu.

Satu-satunya pengganti alami Casemiro hanya Marcos Llorente.

Dan Real Madrid ditundukkan Espanyol 1-0 kala Llorente bermain. Itu kekalahan pertama Los Blancos tanpa Casemiro.

Sejak saat itu, Zizou tidak lagi mempercayakan posisi itu pada Llorente. Pada akhirnya pemain hengkang ke Atletico pada 2019, musim pertama Zidane di periode keduanya.

Dikutip Marca, dalam 18 pertandingan tanpa Casemiro, El Real meraih 11 kemenangan, enam seri dan satu kekalahan selama waktu itu, mencetak 53 gol dan kebobolan 21 gol.

Makelele jilid II

Pada musim panas 2003, Real Madrid bisa dibilang melakukan salah satu kesalahan terbesar mereka.

Kala itu, Florentino Perez menjual Claude Makelele ke Chelsea.

Alasan Makelele dibiarkan pergi adalah klub tidak mampu memenuhi gaji pemain, sedangkan klub baru saja mendatangkan David Beckham dari Manchester United.

Peran Makelele sebagai anchor-man melindungi empat bek di belakangnya. Faktanya, tidak semua pemain bisa berperan baik di posisi ini.

Setelah pemain Prancis itu pergi, Real Madrid benar-benar dihukum. Florentino Perez tidak mampu merajai Eropa dengan Los Galacticos-nya.

Jika melihat skuad Real Madrid yang dipenuhi mega bintang dunia, sulit untuk percaya mereka tidak memenangkan satu pun tropi Liga Champions.

Padahal di era itu, skuad memiliki Ronaldo Nazario, Zinedine Zidane, Luis Figo, dan Michael Owen.

Zidane sempat mengomentari keputusan Perez melepas Makelele.

“Mengapa menempatkan lapisan cat emas lagi pada Bentley, ketika Anda kehilangan seluruh mesin?” ujar Zidane saat itu.

Citra Perez semakin memburuk, saat Ia merekrut Thomas Gravessen yang digadang-gadang bisa menebus kesalahannya.

Baca juga: Real Madrid: Dua Catatan Penting Debut Tchouameni dan Rudiger

Alih-alih tampil memukau, Gravessen justru bermain sangat agresif dan tidak terkontrol. 

Bahkan, Ia sempat bersitegang dengan Robinho, karena tekel horor Gravessen di sesi latihan tim.

Pemain Swedia itu akhirnya dijual pada tahun 2006. Dan Florentino Perez mengundurkan diri pada tahun yang sama. Setahun setelah itu, Makelele memenangkan Liga Champions bersama Chelsea pada musim 2007/2008.

Sang Presiden bisa saja melakukan kesalahan yang sama, jika berani melepas Casemiro.

Pasalnya, belum ada pemain dalam tim saat ini yang bisa menggantikan perannya.

Tchouameni diharapkan sebagai suksesor Casemiro, masih perlu banyak belajar beradaptasi.

Terakhir kali Ia menggantikan maestro-nya, Real Madrid kewalahan menghadapi tim promosi Almeria di laga pembuka LaLiga.

Baca juga: Real Madrid Temukan Dua Karakter Sergio Ramos dalam Diri David Alaba

Jenderal Lapangan

Pada tahun 2016, Los Blancos akhirnya mendapatkan kembali sosok Makelele dalam diri Casemiro.

Zidane melabeli gelandang bertahan Brasil sebagai the next Makelele di era pertamanya membesut Los Blancos.

Dan terbentuklah trio yang disebut Ancelotti sebagai Segitiga Bermuda. 

Ketiga gelandang Madrid itu telah memenangkan 15 gelar untuk Real Madrid.

Kini, masalah Madrid adalah usia ketiga pemain.

Florentino sepertinya menyadari hal itu. Ia sudah mendatangkan pemain muda, seperti Camavinga dan Tchouameni.

Namun, Ancelotti melihat keduanya masih jauh dari kata sempurna. Sehingga, trio MCK murni tak tergantikan.

Kesuksesan Casemiro sebagai pemimpin telah meyakinkan pelatih timnas Brasil, Tite untuk memberikannya ban Kapten pada tahun 2019.

Walaupun, Casemiro tidak dikenal mudah berbicara di depan umum. Dia lebih suka menyampaikan maksudnya di atas lapangan dan meninggalkan pernyataan pers kepada pemain lain.

Masih Produktif

Dari segi usia, Casemiro baru 30 tahun. Dalam artian, pemain internasional Brasil itu masih tahap usia produktif.

Selain itu, Casemiro merupakan jenderal lapangan yang menjadi salah satu kunci kesuksesan Real Madrid memenangkan gelar musim lalu.

Sampai sekarang, Ia masih menjadi tumpuan Los Blancos dan menjadi pemain yang paling disoroti di laga final Liga Champions melawan Liverpool.

Pada pertandingan final UEFA Super Cup, mantan pemain Sao Paulo itu dinobatkan sebagai Man of the Match.

Bahagia di Madrid

Mungkin terkesan berasumsi jika menyebut Casemiro bahagia di Madrid. Tetapi, melihat bagaimana Ia menikmati setiap pertandingan dan terus berkembang menandai sang pemain betah dan ingin terus menjadi pilar utama Los Blancos. Terlebih, kontraknya di Madrid baru akan berakhir pada tahun 2025 mendatang.

Casemiro bukan hanya sekadar pemain utama, Ia begitu disegani para pemain lain. Ia tak pernah diberitakan berselisih paham dengan rekan setimnya. Terlepas dari aksinya yang terkadang brutal kepada pemain lawan.

Trio Real Madrid Casemiro, Kroos dan Modric saat merayakan gelar Juara UEFA Super Cup
Trio Real Madrid Casemiro, Kroos dan Modric saat merayakan gelar Juara UEFA Super Cup 

Dikutip dari El Chiringuito, Real Madrid hanya akan melepas pemainnya jika Ia sendiri yang memintanya.

Casemiro menyadari betapa pentingnya Ia dalam tim. Itu terjadi ketika dia tidak mengeluh saat harus bermain tanpa di setiap pertandingan tiga tahun lalu.

PSG sempat bersikeras membelinya pada beberapa kesempatan di bursa transfer. Tetapi, keputusannya selalu sama. Ia ingin bertahan.

Ia telah tampil di 48 pertandingan semua kompetisi sejak musim lalu, mencetak satu gol dan empat assist. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved