Adat Gorontalo

Apa Itu Hulante? Seperangkat Baki dan Isinya dalam Prosesi Adat Molonthalo Gorontalo

Seorang bidan atau sebutannya Hulango dalam bahasa Gorontalo, menyebut Hulanthe wajib ada dalam prosesi adat Molonthalo di Gorontalo. 

Penulis: Risman Taharuddin | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/Wawan Akuba
Hulanthe dalam prosesi adat Molonthalo Gorontalo, sangat penting. Sebab, ia merupakan seperangkat bahan dan alat untuk keperluan prosesi tersebut. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Dalam prosesi Molonthalo atau adat tujuh bulanan di Gorontalo, istilah Hulante akan kerap disebut. 

Sebab, Hulanthe dalam prosesi adat Molonthalo Gorontalo, sangat penting. ini merupakan seperangkat bahan dan alat untuk keperluan prosesi tersebut. 

Seorang bidan atau sebutannya Hulango dalam bahasa Gorontalo, menyebut Hulanthe wajib ada dalam prosesi adat Molonthalo di Gorontalo. 

Alasannya, Hulante berisi sejumlah alat dan hal-hal terkait prosesi Molonthalo. Apalagi, menurut Farha, bahan-bahan yang telah disiapkan itu memiliki makna tersendiri, seperti halnya beras tiga liter atau dua cupak itu, memiliki lambang rezeki.

Sementara, untuk pala atau cengkeh yang disiapkan memiliki arti sebagai ketegaran hidup, sebagaimana tumbuhan pala.

Lalu cengkeh memberikan kesejahteraan karena hasilnya, serta atribut ini juga melambangkan kesehatan.

lebih lanjut, telur yang disiapkan sebagai atribut adat itu memiliki lambang sebagai asal kejadian manusia. 

Lemon Suanggi memiliki lambang keharuman Negeri. Serta untuk kepingan mata uang yang digunakan dalam acar itu memiliki makna sebagai keuletan atau keterampilan dalam mencukupi kebutuhan hidup.

Farha juga menyebutkan, seperangkat bahan pembakar, berupa dupa memiliki lambang perjalanan doa kehadiran Allah, sebagaimana kumpulan asap dupa yang wangi diharapkan adanya doa yang terucap.

Dupa yang dibakar pada prosesi adat Molonthalo itu, memiliki banyak harapan dari pihak keluarga, agar segala doa dapat tersampaikan kepada Allah.

Seperangkat batu gosok yang disiapkan bersamaan dengan kunyit dan kapur sirih tersebut, jika dikikis dan dicampuri air itu maka akan berubah berwarna kemerahan. 

Campuran kunyit, kapur dan air itu akan digosokkan di jidat wanita hamil  yang melaksanakan adat Molonthalo

"Hal ini dilambangkan sebagai pengesahan pelaksanaan adat Molonthalo," jelas Farha. 

Adapun pelaksana adat Molonthalo ini adalah seorang hulango atau bidan tradisional. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved