Kamis, 12 Maret 2026

Cawapres 2014

Relawan Rekomendasikan Yenny Wahid Dampingi Ganjar Pranowo, Berebut Massa Nahdliyin?

Membidik massa Nadliyin (Nadliyyin)?, Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 Abdurahman Wahid, direkomendasikan mendampingi Ganjar Pranowo maju Pilpres 2024

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Relawan Rekomendasikan Yenny Wahid Dampingi Ganjar Pranowo, Berebut Massa Nahdliyin?
Kolase TribunGorontalo.com
Ganjar Pranowo dan Yenny Wahid. Membidik massa Nadliyin (Nadliyyin)?, Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 Abdurahman Wahid, direkomendasikan mendampingi Ganjar Pranowo maju Pilpres 2024. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - Membidik massa Nahdliyin (Nahdliyyin)?, Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 Abdurahman Wahid, direkomendasikan mendampingi Ganjar Pranowo maju Pilpres 2024.

Selain Yenny Wahid, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud juga direkomendasikan menjadi cawapres dari Ganjar Pranowo.

Yenny Wahid dan Marsudi Syuhud dinilai sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi panutan puluhan juta Nahdliyin di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Sejumlah nama tokoh nasional direkomendasikan sebagai cawapres untuk mendampingi Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Rekomendasi itu berdasarkan hasil survei internal Relawan Sadulur Ganjar Pranowo (DGP).

Ketua Umum Relawan Sadulur Ganjar, Raden Zico Suroto mengatakan pihaknya juga sempat memasukkan tokoh-tokoh potensial lainnya seperti Luhut Binsar Pandjaitan, Basuki Tjahaja Purnama, Susi Pudjiastuti, dan juga Mahfud MD.

Dalam polling internal tersebut DGP juga memasukkan sebelas tokoh potensial sebagai cawapres pendamping Ganjar Pranowo yakni:

- Menko Polhukam Mahfud MD,

- Tokoh NU dan PBNU KH Marsudi Syuhud,

- Ketua DPD RI La Nyalla,

- Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra,

- Menteri BUMN Erick Thohir,

- Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi,

- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo,

- Mendagri Tito Karnavian,

- Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama,

- Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, 

- Mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

Namun akhirnya pihaknya hanya merekomendasi Yenny Wahid sebagai Cawapres dari Ganjar Pranowo.

Massa Nahdliyin

Pemilih di Pulau Jawa menjadi penentu kemenangan.

Konsekuensi dari sistem pemilihan langsung (one man one vote). Jawa adalah penentu dalam election di Indonesia.

Lebih dari separuh pemilih nasional ada di Jatim, Jateng, DI Yokyakarta, Banten dan Jabar.

Jatim, Jateng dan Jabar menjadi arena nyata pertarungan. Lebih dari 70 juta pemilih di tiga provinsi ini dari total 154 juta pemilih pada Pilpres 2019.

Pada Pilpres 2019, suara sahnya 21,7 juta orang di Jategn. Lebih sedikit 3 juta suara dibandingkan Jatim, dan 5 juta suara dari Jabar. Tetapi suaranya solid. Jateng memang kandang banteng, PDIP.

Di Pilpres 2014, Jokowi-Jusuf Kalla meraih 12.959.540 suara, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa 6.485.720 suara.

Selisihnya separuh persis. 2019 kian menjadi-jadi, Prabowo-Sandiaga Uno hanya mendapat 4.944.447 suara dan Jokowi-Maruf 16.825.511 suara.

Prabowo dipilih seperempat lebih sedikit dari suara sah, sisanya ke Jokowi. Selisihnya pun mencapai hampir 12 juta suara.

Di Jatim, suara sah di Pemilu 2019 ada 24,6 juta orang. Prabowo hanya mendapat separuh dari suara yang diraih Jokowi.

Prabowo 8,4 juta suara, Jokowi 16,2 juta suara. Prabowo-Sandi hanya menang di Jabar.

Jokowi-Maruf mendapat 10.750.568 suara, sementara Prabowo-Sandi mendulang 16.077.446 suara. Total pengguna hak pilih di Jabar mencapai 27.467.370 orang. Adapun, jumlah seluruh suara sah mencapai 26.828.014.

Profile Yenny Wahid

Zannuba Ariffah Chafsoh (lahir 29 Oktober 1974) atau Yenny Wahid adalah seorang politikus Indonesia dan aktivis Nahdlatul Ulama.

Ia merupakan pendiri Partai Kedaulatan Bangsa, yang kemudian melebur dengan Partai Indonesia Baru (PIB) menjadi Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB).

Ia menjabat sebagai Komisaris Garuda Indonesia sejak Januari 2020 hingga mengundurkan diri pada Agustus 2021.
Kehidupan pribadi

Yenny Wahid adalah anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah. Ia mempunyai seorang kakak, Alisa Wahid dan dua orang adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid.

Pada 15 Oktober 2009 Yenny menikah dengan Dhorir Farisi. Pada 13 Agustus 2010, Yenny melahirkan putrinya, Malica Aurora Madhura.

Yenny kemudian melahirkan anak keduanya, Amira, pada 14 Agustus 2012. Ia melahirkan putri ketiganya, Raisa Isabella Hasna, pada 3 Maret 2014.

Pendidikan

Seperti ayahnya, ia terlahir dalam lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama. Pola pikirnya pun tidak jauh dengan ayahnya yang lebih mengedepankan Islam yang moderat, menghargai pluralisme dan pembawa damai.

Setamat dari SMA Negeri 28 Jakarta pada 1992, Yenny menempuh studi Psikologi di Universitas Indonesia.

Kemudian atas saran ayahnya, Yenny memutuskan keluar dari Universitas Indonesia dan melanjurkan pendidikannya dalam Jurusan Visual di Universitas Trisakti. Ia kemudian melanjutkan studi administrasi publik di Universitas Harvard, Boston.

Karier

Selepas mendapat gelar sarjana desain dan komunikasi visual dari Universitas Trisakti, Yenny memutuskan untuk menjadi wartawan. Sebelum terjun secara khusus mendampingi ayahnya, Yenny bertugas sebagai reporter di Timor-Timur dan Aceh.

Ia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) antara tahun 1997 dan 1999. Saat itu, meski banyak reporter keluar dari Timor Timur, Yenny tetap bertahan dan melakukan tugasnya.

Ia sempat kembali ke Jakarta setelah mendapat perlakuan kasar dari milisi, namun seminggu kemudian ia kembali ke sana. Liputannya mengenai Timor Timur pasca referendum mendapatkan anugrah Walkley Award.

Yenny juga terlibat dalam peliputan atmosfer Jakarta yang mencekam menjelang Reformasi 1998. Pada saat itu, Ia juga pernah ditodong senjata oleh oknum anggota ABRI yang sedang berusaha mensterilkan jalan lingkar Trisakti.

Belum terlalu lama menekuni pekerjaannya, ia berhenti bekerja karena ayahnya, Gus Dur, terpilih menjadi presiden RI ke-4. Sejak itu, kemanapun Gus Dur pergi, Yenny selalu berusaha mendampingi ayahnya, dengan posisi Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik.

Setelah Gus Dur tidak lagi menjabat sebagai presiden, Yenny melanjutkan pendidikanya dan memperoleh gelar Magister Administrasi Publik dari Universitas Harvard di bawah beasiswa Mason.

Sekembalinya dari Amerika Serikat pada 2004, Yenny kemudian menjabat sebagai direktur Wahid Institute yang saat itu baru berdiri. Hingga kini ia menduduki jabatan tersebut.

Semasa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Yenny sempat mengabdi sebagai staf khusus bidang Komunikasi Politik selama satu setahun sebelum ia akhirnya menggundukan diri.

Ia mengundurkan diri dengan alasan tidak ingin adanya perbedaan kepentingan dengan jabatannya pada Partai Kebangkitan Bangsa.

Yenny menjabat sebagai Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2005-2010. Namun kemudian ia diberhentikan dari posisi tersebut pada 2008.

Yenny kemudian mendirikan partai politik sendiri dengan nama Partai Kedaulatan Bangsa. Kemudian pada 2012, Partai Kedaulatan Bangsa dan Partai Indonesia Baru (PIB), yang dipimpin oleh Kartini Sjahrir, melebur menjadi satu dengan nama Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB). Yenny ditunjuk sebagai ketua umum partai tersebut.

Pada 2009, dia dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan Young Global Leader oleh World Economic Forum. Yenny juga merupakan anggota dari Global Council on Faith.

Pada 2018, Ia telah menyatakan dukungannya secara publik untuk pasangan Jokowi - Ma'ruf .

Pada Januari 2020, ia ditunjuk menjadi Komisaris Independen Garuda Indonesia dimana ia menjadi perwakilan publik.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sosok KH Marsyudi Suhud Salah Satu Tokoh yang Direkomendasikan Jadi Cawapres Ganjar di Pilpres 2024

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved