Penelitian Dosen IAIN Gorontalo: Perempuan di Kota Gorontalo Kerap Menerima Catcalling

Meski begitu, perempuan di Kota Gorontalo yang kerap menerima catcalling, hanya sebagian kecil tahu, bahwa apa yang mereka terima adalah...

Penulis: redaksi | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
Ruwiah Abdullah Buhungo dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, serta Mulya Ningsi Katili dosen Fakultas Syariah. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo –  Penelitian yang baru-baru dilakukan oleh dua dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, menyebut perempuan di Kota Gorontalo kerap menerima catcalling.

Meski begitu, perempuan di Kota Gorontalo yang kerap menerima catcalling, hanya sebagian kecil tahu, bahwa apa yang mereka terima adalah pelecehan dan melanggar hukum.

Lebih-lebih menganggap itu adalah pelecehan dalam ruang publik, catcalling yang diterima justru dianggap hal yang biasa. 

Karena itu, dalam penelitian berjudul “Aktualisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Terhadap Fenomena Catcalling di Kota Gorontalo” itu, dua dosen  yakni Ruwiah Abdullah Buhungo dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan serta Mulya Ningsi Katili dosen Fakultas Syariah, memaparkan solusinya. 

Mulya Ningsi Katili kepada TribunGorontalo.com, Senin (25/7/2022) menjelaskan, perlu adanya perlindungan hukum yang jelas terhadap para perempuan di Gorontalo. 

Paling penting kata dia, adanya sosialisasi kepada masyarakat Kota Gorontalo bahwa catcalling adalah perilaku yang melanggar. 

“Jadi dalam penelitian ini, (kami) akan memberikan alternatif baru bagi Perguruan Tinggi Agama Islam baik negeri maupun swasta yang ada di Provinsi Gorontalo, dalam mensosialisasikan aktualisasi kekerasan seksual verbal yang menjadi momok tersendiri bagi masyarakat milenial saat ini.” kata Mulya Ningsi, Senin (25/7/2022). 

Tujuannya kata Mulya, menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam pada masyarakat Kota Gorontalo

Agar ada peran masyarakat terhadap pencegahan fenomena catcalling di Kota Gorontalo.

Apalagi, Provinsi Gorontalo memiliki falsafah "Adati hula-hula'a to Sara'a, Sara'a hula-hula'a to Kuru'ani" yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi "Adat Bersendikan Syara', dan Syara' Bersendikan Kitabullah". 

Falsafah ini menjadi pandangan hidup masyarakat Gorontalo yang memadukan antara agama, adat istiadat dan alam sekitarnya. 

“Melihat falsafah tersebut, maka catcalling sudah bisa dikatakan sebagai perbuatan yang tidak dibenarkan dan mengandung unsur pidana,” tegas Mulya. 

Karena itu menurutnya, pelaku pelecehan seksual secara verbal bisa mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat.

Ia sangat diharapkan agar masyarakat tidak mengabaikan perilaku catcalling, “karena Catcalling bukan sebatas candaan atau Gurauan ataupun permainan tetapi perilaku catcalling yang menimbulkan rasa yang tidak nyaman dari para korbannya,” tutup Mulya. 

Adapun sejumlah contoh catcalling yakni memberikan siulan kepada wanita di jalan, diklakson, suara kecupan/ciuman, suara “sstt ssstt”, main mata, tindakan vulgar, komentar seksis, komentar rasis, komentar seksual, komentar atas tubuh, komentar atas abilitas, diikuti/dikuntit, dihadang, dipegang atau disentuh, atau pertanyaan/ajakan agresif kepada perempuan di jalanan.(*)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved