Begini Upaya BI Gorontalo Kendalikan Angka Inflasi
BI Gorontalo bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Gorontalo menggelar high level meeting untuk membahas persoalan inflasi tersebut pada Selasa
Penulis: Redaksi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/060272022_Inflasi-Gorontalo_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Gorontalo berupaya mengendalikan angka inflasi Provinsi Gorontalo.
BI Gorontalo bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Gorontalo menggelar high level meeting untuk membahas persoalan inflasi tersebut pada Selasa (5/7/2022) kemarin.
Menurut Ronny Widijarto Puru Baskoro Kepala Perwakilan BI Gorontalo, pertemuan itu quick response TPID dalam mengantisipasi kenaikan harga beberapa komoditas utama menjelang perayaan Idul Adha 1443 H.
Tingkat inflasi Provinsi Gorontalo secara bulanan (mtm) dan tahunan (yoy) pada bulan Juni 2022 lalu sudah mendekati batas atas dari sasaran inflasi tahunan Bank Indonesia yang mencapai 4,35 persen (yoy).
“Tingkat inflasi Gorontalo pada Juni 2022 relatif lebih tinggi dari Nasional dan Sulampua yang didominasi oleh komoditas volatile foods, seperti cabai rawit, tomat, dan bawang merah.” ungkap Ronny.
Karena itu, tantangan inflasi ke depannya adalah komoditas dari kelompok volatile foods terutama pada komoditas yang memiliki andil cukup besar terhadap inflasi.
Berdasarkan monitoring perkembangan harga di PIHPS yang dilakukan Bank Indonesia, dibandingkan pasar modern, inflasi pasar tradisional dinilai relatif tinggi.
“Kenaikan harga dari tiga komoditas dari responden tersebut selama tiga tahun terakhir ini dapat dikatakan cukup tinggi. Untuk itu, Bank Indonesia telah berperan dalam membantu ketersediaan pasokan pangan melalui klaster-klaster pangan binaan, dalam hal ini adalah UMKM binaan.” kata Ronny.
Meski begitu katanya, ia menyarankan masyarakat dapat menanam cabai melalui media seperti lorong cabai.
Sebab, sejak tahun 2020, Provinsi Gorontalo adalah daerah surplus cabai, sehingga dapat memasok kebutuhan daerah lain yaitu di Sulawesi Utara dan Maluku Utara melalui mekanisme Kerjasama Antar Daerah (KAD).
Karena itu, melonjaknya harga cabai di Gorontalo mesti kembali disiasati dengan masing-masing masyarakat kembali menanam cabai di rumah.
“Pemerintah provinsi berinisiatif untuk menggalakkan kembali gerakan menanam cabai di lingkungan Pemerintah sebagai strategi jangka pendek untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan masyarakat.” tutur Ronny.
Adapun pertemuan dengan TPID Gorontalo menghasilkan tiga rekomendasi pengendalian inflasi, yakni:
1.Melaksanakan Operasi Pasar Murah (OPM) secara lebih intensif untuk komoditas bahan pokok yang rentan mengalami peningkatan harga seperti: cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam. (Keterjangkauan Harga)
2.Memperkuat pelaksanaan Kerjasama Antar Daerah (KAD) khususnya untuk komoditas yang rentan mengalami defisit pasokan di Gorontalo seperti cabai rawit dan bawang merah. KAD Eksisting: GORMANTE (Gorontalo-Manado-Ternate). Rencana KAD: Gorontalo-Sulawesi Tengah (Ketersediaan Pasokan)
3.Memperkuat ketahanan pangan domestik melalui perbaikan di sisi budidaya (hulu) serta optimalisasi infrastruktur pendukung pertanian untuk meningkatkan produksi tanaman pangan. (Ketersediaan Produksi, Keterjangkauan Harga). (*)