Minggu, 8 Maret 2026

Puan Maharani

Belajar dari Ganjar, PDIP Berpeluang Usung Puan Maharani Maju Pilpres 2024

PDI Perjuangan belajar dari Ganjar Pranowo untuk mengusung Puan Maharani pada Pilpres 2024.

Tayang:
Editor: Lodie Tombeg
zoom-inlihat foto Belajar dari Ganjar, PDIP Berpeluang Usung Puan Maharani Maju Pilpres 2024
Kolase TribunGorontalo.com
Puan Maharani dan Ganjar Pranowo. PDI Perjuangan belajar dari Ganjar untuk mengusung Puan Maharani pada Pilpres 2024. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Jakarta - PDI Perjuangan belajar dari Ganjar Pranowo untuk mengusung Puan Maharani pada Pilpres 2024. Bermodalkan elektabilitas 3 persen, Ganjar sukses memenangkan Pilkada Jawa Tengah pada 2013.

Peluang Puan mengikuti jejak Ganjar untuk Pilpres 2024 cukup terbuka. Pada beberapa survei capres, putri mahkota PDIP itu berkisar antara 1 hingga 5 persen.

Langkah Puan menuju Pilpres 2024 belum diputuskan. PDIP tak kunjung memberi sinyal soal sosok calon presiden yang akan mereka usung di pilpres mendatang.

Katanya, urusan pencalonan presiden sepenuhnya menjadi wewenang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Tetapi, nama Ketua DPP PDI-P yang juga Ketua DPR RI Puan Maharani dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kerap disebut sebagai sosok potensial.

PDI-P disinyalir bimbang. Hendak mendorong pencalonan Puan, tetapi elektabilitasnya mentok di kisaran 1 persen menurut survei berbagai lembaga. Sementara, Ganjar yang notabene bukan petinggi PDI-P justru menjuarai survei sejumlah lembaga dengan elektabilitas tembus 20 persen.

Namun demikian, "darah biru" Puan sebagai putri mahkota partai dinilai memberinya peluang besar untuk melenggang ke panggung pilpres. PDI-P pun seakan sedang berupaya keras mendongkrak elektabilitas cucu Bung Karno itu untuk bekal pencapresan.

Setelah menempatkan Puan di kursi strategis Ketua DPP Bidang Politik dan Keamanan PDI-P periode 2019-2024, kini, putri bungsu Megawati itu dapat tugas khusus dari ibundanya.

Tugas khusus dari Mega Peran terbaru Puan di partainya ialah keliling Indonesia untuk bertemu dengan kader PDI-P di daerah. Tugas ini dimandatkan langsung oleh Megawati.

Puan mengaku, dirinya telah berkeliling ke berbagai penjuru tanah air, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sampai ke Papua.

"Selama ini saya muter-muter, Jawa Tengah, Jawa Timur, ini mulai masuk Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, sampai ke Papua, dan lain sebagainya. Ada yang nanya Mbak Puan mau ngapain si muter-muter?" kata Puan dalam keterangannya, Senin (4/7/2022).

“Ya pertama sebagai Ketua DPP partai sebagai Ketua DPR saya ditugaskan, inget ya ditugaskan Ibu Ketua Umum (Megawati) untuk muter-muter, untuk ketemu sama keluarga besar PDI Perjuangan,” sambungnya. Menurut Puan, tugasnya untuk berkeliling tanah air ini dalam rangka konsolidasi partai. Sebelumnya, Megawati juga mengamanatkan Puan agar melakukan penjajakan kerja sama dengan partai politik lain guna menghadapi Pemilu 2024.

"Dan tadi saya diminta ibu ketum sebagai ketua DPR bisa ikut menjajaki kerja sama, ada silaturahim," kata Puan usai Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDI-P di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (23/6/2022).

Puan mengungkapkan, PDI-P bakal melakukan penjajakan politik dengan semua partai tanpa terkecuali. Penjajakan ini atas arahan dan izin dari Megawati.

"Tentu saja, kita akan menjajaki kerja sama dengan semua partai yang ada," ujarnya. Menurut Puan, bagi PDI-P, silaturahmi ke partai politik adalah suatu kewajiban. Sehingga, peluang untuk kerja sama terbuka lebar. "Dan Insya Allah dan setelah rakernas kita akan memulai melakukan silaturahmi-silaturahmi" katanya.

Dalih PDI-P Puan mengatakan, ada alasan khusus mengapa dirinya yang bertugas keliling Indonesia untuk konsolidasi, bukan Megawati. Menurut dia, ini karena kondisi Megawati yang sudah tidak memungkinkan untuk turun langsung bertemu masyarakat.

Puan mengaku meminta langsung pada ibunya untuk tidak lagi terjun ke bawah demi menjaga kondisi kesehatannya.

"Kenapa? Kita semua sayang sama Ibu Mega kan. Nah jadi saya memang termasuk orang yang meminta Ibu Mega itu enggak muter-muter seperti dulu," kata Puan.

"Karena kita sayang sama Ibu Mega kita jaga kesehatannya, kalau acara besar, acara urgent, acara penting ibu akan hadir," tuturnya. Sementara, Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat berdalih, penunjukan Puan sebagai pengganti Mega untuk konsolidasi ke daerah-daerah juga bukan tanpa alasan.

Ini karena peran Puan di internal PDI-P sebagai Ketua DPP di bidang politik. "Mbak Puan itu di DPP sebagai ketua bidang politik. Beliau putrinya Bu Megawati," kata Djarot di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (4/7/2022).

Tak hanya konsolidasi ke daerah, menurut Djarot, Puan juga mulai menjalin komunikasi dengan partai-partai politik lainnya, sebagaimana titah Mega.

Puan ditugaskan dalam urusan ini karena dia merupakan Ketua DPR yang kerap bertemu fraksi-fraksi partai di Parlemen.

"Komunikasi lintas fraksi itu pasti dilakukan oleh beliau. Semua partai-partai politik itu kan ada fraksi-fraksi juga kan dan setiap saat juga bertemu sama beliau (Puan Maharani)," jelasnya.

Ketika ditanya apakah langkah ini terkait pencapresan, Djarot mengatakan, partainya masih belum memikirkan pilpres dalam waktu dekat. Sebab, gelaran pemilihan itu baru akan dilaksanakan di 2024.

"Kalau pemilu kan masih 2024 ya. Jadi kalau hal-hal yang sifatnya teknis itu kalau partai kan tetap tegak lurus ya pada hasil keputusan kongres, apalagi soal pencapresan," kata dia.

Perihal capres sendiri sebelumnya sudah ditegaskan oleh Megawati. Dia meminta semua pihak bersabar terkait ini. "Tentu semuanya berpikir, kenapa ya ibu, sudah banyak itu pertanyaan. Kapan mau mendeklarasikan calon presiden dan calon wakil presiden, ya sabar lah sedikit," kata Megawati dalam pidatonya di Rakernas II PDI-P, Kamis (23/6/2022).

Megawati beralasan, dirinya belum selesai menghitung atau mempertimbangkan mana calon yang tepat.

Menurut dia, sebagai ketua umum pemegang hak prerogatif untuk menentukan capres, dirinya harus betul-betul teliti sebelum ambil keputusan.

"Saya sebagai ketua umum harus menghitung gitu loh, jadi perhitungan saya belum selesai," tutur Presiden ke-5 RI itu. Agenda besar Melihat ini, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menilai, PDI-P tengah berupaya mengenalkan Puan ke masyarakat luas.

Ini tak lepas dari agenda besar partai penguasa itu untuk mengusung Puan di Pilpres 2024. Menurut Yunarto, PDI-P sepenuhnya sadar bahwa elektabilitas Puan masih sangat minim.

Tapi, sebagai putri mahkota, partai banteng ingin mendorong pencalonan mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) itu di pilpres.

"Mungkin setelah memberikan kesempatan kepada Mbak Puan untuk keliling, berkenalan dengan masyarakat, dengan kader, dan di situ nanti akan dilihat apakah kemudian ada peningkatan elektabilitas atau tidak," kata Yunarto kepada Kompas.com, Senin (4/7/2022).

Seandainya upaya itu tak membuahkan hasil berupa meningkatnya elektabilitas Puan, menurut Yunarto, PDI-P bisa saja memutuskan untuk mengusung nama lain sebagai capres.

Boleh jadi, Megawati akan menunjuk Ganjar yang jelas-jelas punya elektabilitas tinggi. Sebab, sebagai partai penguasa selama hampir sepuluh tahun, PDI-P pun enggan merugi karena capres yang diusungnya gagal menang.

"Kan sudah jelas ditargetkan PDI Perjuangan harus mendapatkan hattrick, 3 kali kemenangan, dan itu tidak mungkin didapatkan ketika capresnya tidak punya elektabilitas yang cukup," ujar Yunarto.

Kendati demikian, Yunarto menilai, PDI-P tidak akan buru-buru mengumumkan capresnya.

Berkaca pada Pilpres 2014, Megawati cenderung mengambil keputusan di masa injury time atau detik-detik terakhir pendaftaran calon.

Oleh karenanya, sebelum mendekati hari pendaftaran capres cawapres, PDI-P bakal menempuh berbagai upaya, bahkan sebisa mungkin meningkatkan elektabilitas Puan, sambil mengalkulasi peluang kemenangan.

"Partai ini belum berani berbicara mengenai koalisi dan bahkan masih mendorong kadernya untuk bergerak, lalu melarang kadernya untuk bicara mengenai capres, termasuk masih memberikan waktu untuk Mbak Puan bekerja," kata Yunarto.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP, Bambang Wuryanto, menyebut elektabilitas Ganjar yang lebih tinggi daripada Puan hanya sementara.

"Elektabilitas seseorang itu adalah potret keadaan pada waktu itu yang bisa bergerak berubah. Seseorang punya elektabilitas itu tentu karena adanya effort. Effort-nya apa? Hari ini ya asal kau kenal, maka kau pilih aku. Kau kenal aku, kau suka sama aku, pasti kau pilih aku," kata Bambang di kompleks DPR/MPR, Jakarta, Selasa (25/5/2021).

Pria yang biasa disapa Bambang Pacul ini menyebut elektabilitas yang dimiliki Ganjar bukan diperoleh dari persaingan ketat. Menurutnya, elektabilitas Ganjar naik karena efek pemberitaan yang masif.

Dia kemudian membandingkan Ganjar dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Menurutnya, ketiganya sama-sama sering disorot dalam pemberitaan berbagai media.

"Makin luas jangkauan makin oke, itulah ketika jangkauan sudah tinggi maka dia dikenal oleh orang banyak, itulah popularity. Kalau kau suka keluarlah itu yang namanya electability. Oke, itu hanyalah hasil wacana udara," ucapnya.

Bambang lantas menyinggung elektabilitas Ganjar ketika hendak mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Jawa Tengah pada Maret 2013. Menurutnya, elektabilitas Ganjar hanya 3 persen saat itu.

Bambang pun mengungkit jasa Puan Maharani yang mendongkrak Ganjar hingga menjadi gubernur saat ini. Menurutnya, Puan adalah sosok yang bekerja keras memenangkan Ganjar.

Tanda Tanya Capres PDI-P: Kuasa Megawati dan Kalkulasi Politik

PDI Perjuangan tak bergeming. Di tengah riuhnya bursa pencalonan presiden menuju 2024, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tetap teguh pada pendirian, belum mau mengumumkan nama calon presiden (capres).

Dikatakan berulang kali oleh para kader partai banteng, PDI-P menunggu arahan ketua umum perihal pencapresan. Sementara, hingga kini belum ada sinyal Megawati bakal mengumumkan nama capres pilihannya.

Bukannya PDI-P tak punya nama potensial untuk dicalonkan di pilpres. Sebutlah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua DPR RI Puan Maharani yang namanya kerap disebut-sebut dalam survei elektabilitas capres 2024. Bahkan, isu berembus mengatakan bahwa Ganjar dan Puan bersaing di internal PDI-P memperebutkan tiket menuju panggung pencapresan.

Bisa jadi, belum diumumkannya capres PDI-P ini karena Megawati masih menimbang-nimbang pertaruhan. Mungkin juga ini bagian dari strategi.

Tak terpengaruh partai lain Terbaru, Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat mengatakan bahwa partainya tidak terpengaruh oleh partai lain soal deklarasi pencapresan. Ini menangapi Partai Gerindra yang dalam waktu dekat akan mengumumkan nama ketua umumnya, Prabowo Subianto sebagai capres.

"Kalau masalah Gerindra itu masalah otonom Partai Gerindra, silakan. Tapi kalau PDI-P menunggu ibu ketua umum. Yang sabar sedikit, jangan grasah-grusuh, jangan kesusu (terburu-buru)," kata Djarot di Kantor DPP PDI-P, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (3/7/2022).

Djarot mengaku dirinya bahkan tak tahu menahu soal rencana deklarasi pencapresan Prabowo. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini pun mengatakan, dirinya belum bisa memastikan apakah PDI-P akan merapat ke Gerindra jika partai berlambang Garuda itu mendeklarasikan Prabowo sebagai capres.

"Saya belum pernah mendengar deklarasi itu. Itu masih prediksi, imajinasi, spekulasi ini. Kami di dalam (PDI-P), tidak main spekulasi," ujarnya.

Kuasa ketua umum Para kader PDI-P paham betul bahwa perihal capres merupakan wewenang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Ihwal tersebut telah ditegaskan dalam hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDI-P yang diumumkan pada Kamis (23/6/2022).

"Rakernas II Partai menegaskan bahwa penetapan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan diusung oleh PDI Perjuangan pada Pemilu 2024, berdasarkan keputusan Kongres V Partai, AD/ART Partai dan tradisi demokrasi partai adalah hak prerogatif Ketua Umum Partai, Prof DR (HC) Megawati Soekarnoputri," kata kader PDI-P yang juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat membacakan hasil rakernas di Sekolah Partai PDI-P, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis.

Dalam acara yang sama, Megawati mengatakan bahwa dirinya memang belum mengumumkan nama capres-cawapres yang akan diusung partainya. Dia pun meminta semua pihak bersabar.

"Tentu semuanya berpikir, kenapa ya ibu, sudah banyak itu pertanyaan. Kapan mau mendeklarasikan calon presiden dan calon wakil presiden, ya sabar lah sedikit," kata dia.

Megawati beralasan, dirinya belum selesai menghitung dan mempertimbangkan mana calon yang tepat. Menurut Mega, sebagai ketua umum pemegang hak prerogatif untuk menentukan capres, dirinya harus betul-betul teliti sebelum ambil keputusan.

"Saya sebagai ketua umum harus menghitung gitu loh, jadi perhitungan saya belum selesai," tutur Presiden ke-5 RI itu.

Kriteria Mega Kendati belum mengumumkan nama, Megawati sempat menyinggung kriteria kader yang bakal dipilihnya sebagai capres. Megawati mengaku, dia tak akan memilih sosok yang hanya bermodalkan elektoral.

Menurutnya, calon pemimpin semestinya memiliki kemampuan tata kelola negara yang kuat. "Maka pemimpin yang saya cari tidak hanya yang mengandalkan elektoral semata," ucap Megawati.

Mega menyebut, tantangan bagi seorang calon pemimpin tidaklah ringan. Ada banyak persoalan ke depan terkait persoalan negara yang tak bisa diselesaikan hanya bermodalkan elektoral yang tinggi.

"Seperti ketidakpastian global, ancaman resesi dunia, krisis pangan dan masih banyak lainnya," kata putri Proklamator Soekarno itu.

Tak khawatir Peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro menilai bahwa belum diumumkannya capres PDI-P hingga kini adalah karena partai tersebut merasa tak khawatir soal pencapresan. Sebagai partai penguasa yang bisa mengusung calon presidennya sendiri, PDI-P punya banyak waktu untuk menimbang dan memilih capres terbaik.

"PDI-P sebagai partai bisa mencalonkan sendiri tanpa koalisi karena memenuhi ambang batas pencalonan presiden memang lebih terlihat kalem," kata Bawono kepada Kompas.com, Senin (4/7/2022).

Bawono menilai, PDI-P merasa lebih aman karena menjadi satu-satunya partai yang memenuhi presidential threshold. Sebab, modal tersebut juga dirasa menjadi faktor penarik partai lain untuk merapat ke partai banteng.

Selain itu, lanjut Bawono, sudah menjadi langgam politik PDI-P mengumumkan nama capres di detik-detik menuju pendaftaran calon presiden.

"Seperti juga kebiasaan mereka selama ini sebagai partai politik dengan kursi terbesar di parlemen kemungkinan memutuskan pilihan dalam pemilihan presiden mendatang di last minute," tuturnya.

Kendati begitu, Bawono menilai, keputusan PDI-P yang belum juga buka suara terkait pencapresan belum tentu menarik partai-partai lain untuk merapat.

Menurutnya, parpol lain akan menimbang sosok yang kelak diusung PDI-P, dan tentu menghitung peluang kemenangannya. "Apalagi bila bakal calon diusung nanti memiliki prospek elektoral menjanjikan untuk menang," kata dia.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Banting Tulang PDI-P demi Antar Puan Maharani ke Panggung Pilpres..."

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved