Pegunungan Tilongkabila Gorontalo
Balai TNBNW Ancam Blacklist Organisasi yang Mendaki Ilegal ke Tilongkabila
Namun jika ketahuan mendaki ilegal setelah pendakian selesai, maka Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) akan mem-blacklist organisasi te
Penulis: Redaksi |
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/29062022_Balai-Taman-Nasional-Bogani-Nani-Wartabone-TNBNW_.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Limboto, Bagus Tri Nugroho memperingatkan organisasi untuk tidak mendaki ilegal ke Tilongkabila.
Sebab, sanksi mendaki ilegal ke Tilongkabila terbilang berat kata Bagus. Jika kedapatan sudah berada di jalur pendakian, maka para pendaki akan dipaksa turun.
Namun jika ketahuan mendaki ilegal setelah pendakian selesai, maka Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) akan mem-blacklist organisasi tersebut.
“Jika ketahuan melakukan pendakian ilegal, kami tidak akan segan memasukan organisasi tersebut ke dalam daftar hitam (blacklist),” ungkap Bagus kepada TribunGorontalo.com, Rabu (29/06/2022).
Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) menutup sementara jalur pendakian Tilongkabila, Gorontalo.
Penutupan jalur pendakian Tilongkabila dilakukan, setelah baru-baru ini tim SAR gabungan mengevakuasi sejumlah Mapala Gorontalo dari pegunungan tersebut.
Dalam pemberitaan sebelumnya, seorang anggota kelompok mapala itu mengalami kedinginan yang mengarah ke gejala hipotermia.
Pertimbangan penerbitan Surat pemberitahuan penutupan jalur pendakian Tilongkabila, untuk mencegah kejadian serupa.
Penutupan diinformasikan Balai TNBNW melalui surat bernomor S.27/BTNBNW/SPTN.I/06/2022. Surat itu belaku sejak Selasa 28 Juni 2022.
“Kami Balai Taman Nasional Bogani nani Wartabone selaku pengelola kawasan menyatakan penutupan jalur pendakian Tilongkabila sampai batas waktu yang belum ditentukan,” tegas Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Limboto, Bagus Tri Nugroho dalam surat tersebut.
Sebelumnya diketahui, sejumlah anggota Mapala Gorontalo; Mapala Belantara, Mapala BTN, dan KPA Li-Bande dievakuasi dari Pegunungan Tilongkabila pada Jumat 25 Juni 2022.
Evakuasi sempat terhalang cuaca dan kondisi medan yang sulit. Tidak heran, evakuasi selesai pada hari berikutnya.
Basarnas Gorontalo menyebutkan, evakuasi dilakukan karena Dea Nanda Doke, anggota Mapala Belantara, kedinginan dengan gejala mirip hipotermia.
Kronologinya, pada Kamis (23/6/2022) pukul 04.00 Wita, 15 orang anggota Mapala Belantara melakukan pendakian wajib.
Pendakian ke Pegunungan Tilongkabila itu dalam rangka Diksar ke-7 Mapala Belantara.
Lalu pada Jumat (24/6/2022) pukul 10.00 Wita, Dea mengeluh kelelahan dan beristirahat.
Saat itu tim sudah berada di ketinggian 701 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Meski sudah beristirahat, kondisi Dea justru makin memburuk, sehingga ia dicurigai mengalami hipotermia.
Saat itu, ia menunjukan batuk berdarah. Karena kondisi korban yang sudah tidak mampu berjalan serta jalanan turun yang terjal dan becek, pukul 21.00 Wita tim pendakian mengambil keputusan untuk beristirahat di pos 1 sembari menunggu tenaga Dea kembali pulih.
Dianggap kondisi mulai membahayakan, pada saat itu juga seorang tim menginformasikan ke Basarnas Gorontalo.
Adapun penangannya dilakukan dengan Basarnas Gorontalo menerjunkan 11 personel dengan dua unit mobil penyelamatan type 2.
Tim membawa serta mountenering dan peralatan pendukung evakuasi lainnya.
Adapun cuaca ringan menyertai penyelamatan itu. Cuaca tersebut diduga menjadi sebab Dea alami hipotermia. (*)
Belakangan, Ketua Umum Mapala Belantara membantah apa yang dialami Dea itu. Kata dia, Dea dengan nama rimba Keong Sawah itu, hanya mengalami kedinginan biasa.
Wajah, saat itu cuaca di Pegunungan Tilongkabila sedang dalam kondisi buruk. (*)