Misteri Amblas Jembatan dan Rumah di Amurang-Sulut: Abrasi atau Likuifaksi?

Amblas jembatan dan sejumlah rumah di kompleks Kambiow, Kelurahan Lewet dan Uwuran, Kecamatan Amurang akibat abrasi atau likuifaksi?

Editor: lodie tombeg
Kolose tangkapan layar video FB/Ist
Jembatan amblas di kompleks Tugu I'am Amurang pada Rabu (15/6/2022) pukul 14.20 Wita. Peristiwa diduga akibat abrasi, ada juga spekulasi likuifaksi. 

Menurut Eko, bencana abrasi air laut di Minahasa Selatan pernah terjadi pada 1968.

"(Bencana serupa) yang dilaporkan adalah pada tahun 1968. Namun tidak sedahsyat ini, hanya di beberapa titik saja," tuturnya. "Hanya abrasi biasa, tidak meluap-luap seperti sekarang," imbuh Eko.

Sebelumnya, bencana alam abrasi air laut dilaporkan terjadi di kompleks Tugu I'am Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara, (15/6/2022).

Puluhan rumah dan bangunan dilaporkan ambles dan hanyut terseret air laut.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB per Kamis (16/6/2022) pukul 02.23 WIB, mencatat 31 unit rumah rusak berat dan sejumlah bangunan lainnya juga ikut terdampak.

Bahkan ratusan warga yang terdampak bencana abrasi tersebut terpaksa mengungsi ke posko yang didirikan oleh BPBD Kabupaten Minahasa Selatan dan pemerintah setempat.

Apa Itu Fenomena Likuifaksi?

Pada tanggal 28 September 2018, terjadi bencana gempa bumi di Sulawesi Tengah yang memunculkan fenomena likuifaksi atau tanah bergerak. Akibat fenomena likuifaksi, tercatat ada ribuan rumah dengan luas ratusan hektar yang terkena dampaknya. Lantas, apa yang dimaksud dengan fenomena likuifaksi dan bagaimana proses terjadinya?

Pengertian likuifaksi Dilansir dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ahli geologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, mengatakan bahwa likuifaksi adalah perubahan material yang padat (solid), dalam hal ini berupa endapan sedimen atau tanah sedimen, menjadi seperi cairan (liquid).

Dr. Imam menjelaskan, fenomena likuifaksi sebenarnya hanya bisa terjadi pada tanah yang jenuh air (saturated).

Air tersebut terdapat di antara pori-pori tanah dan membentuk yang disebut sebagai tekanan air porii. Dalam hal ini, tanah yang berpotensi mengalami likuifaksi umumnya tersusun dari material yang didominasi oleh ukuran pasir.

Ketika ada gempa bumi yang menghasilkan gaya guncangan yang sangat kuat dan tiba-tiba, tekanan air pori naik seeketika hingga terkadang melebihi kekuatan gesek tanah terseebut.

Proses inilah yang menyebabkan terjadinya likuifaksi dan material pasir penyusun tanah menjadi seakan melayang di antara air.

Menurut Dr. Imam, jika posisi tanah berada di suatu kemiringan, tanah dapat ‘bergerak’ ke bagian bawah lereng sehingga benda-benda di atasnya, seperti rumah, tiang listrik, pohon, dan lain-lain ikut terbawa.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved