Breaking News:

Gorontalo Hadapi PMK

Cerita Peternak Gorontalo Pangkas Jumlah Sapi yang Dikirim ke Luar Daerah

Sebetulnya, wabah ini disebut tidak mematikan bagi hewan ternak yang sudah dewasa. Namun, bagi hewan yang masih muda, PMK ....

TribunGOrontalo.com/AgungPanto
Potret sapi di salah satu peternakan di Gorontalo, Kamis (19/5/2022). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Abdul Azis tengah gelisah saat ditemui TribunGorontalo.com sore tadi, Kamis (19/5/2022). Sebab, ia harus mengurangi jumlah sapi yang dikirim ke Kalimantan.

Abdul merupakan peternak sapi di Kelurahan Biyonga, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo. Jika biasanya ia mengirimkan 1000 ekor ke Balikpapan, Kalimantan. Kini karena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), ia harus memangkas 50 persen dari jumlah itu. 

Artinya, jelang lebaran Idul Fitri 1443 H tahun ini, Abdul hanya mengirim 500 ekor sapi miliknya. Tentu karena itu, omsetnya pun berkurang. Belum lagi adanya aturan karantina yang diberlakukan oleh Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo.

“Kami di sini biasa mengirimkan 1000 ekor saat ini hanya mampu sampai 500 ekor, karena sebelum pengiriman kita harus menyediakannya selama dua minggu di tambah lagi karantina dua minggu akibatnya memakan waktu lebih lama lagi dan biaya pemeliharaan membengkak,” kata Abdul.

Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) disebut juga wabah sapi. Hal itu karena memang penyakit ini lebih banyak menyerang sapi. 

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang sangat menular. Dikutip dari kompas.com, gejala yang paling tampak adalah demam, blister di mulut dan kaki hewan ternak, dan air liur kental. Hewan ternak yang bisa terkena wabah PMK antara lain sapi, kerbau, unta, kambing, domba, rusa, dan babi. 

Sebetulnya, wabah ini disebut tidak mematikan bagi hewan ternak yang sudah dewasa. Namun, bagi hewan yang masih muda, PMK bisa menjadi sangat serius dan menimbulkan kerugian produksi yang sangat tinggi.

Penyebab wabah PMK PMK disebabkan oleh Aphthovirus dari famili Picornaviridae. Terdapat tujuh serotipe virus yang sudah terdeteksi, yaitu A, O, C, SAT1, SAT2, SAT3, dan Asia1. Semua serotipe tersebut menjadi endemi di negara yang berbeda-beda di seluruh dunia.

Meski kasus wabah ini belum ditemukan di seluruh provinsi di Sulawesi termasuk Gorontalo, namun Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo telah mengeluarkan kebijakan karantina yang ketat. 

Pengetatan itu kata Muhammad Sahrir, Kepala Balai Karantina Kelas II Gorontalo dilakukan dengan karantina minimal 14 hari. 

“Saat ini sesuai instruksi untuk seluruh Balai Karantina di Indonesia melakukan karantina 14 hari untuk ternak yang akan dikirim,” ungkap Sahrir kepada TribunGorontalo.com, Rabu (18/5/2022). (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved