Tumbilotohe

Pemkot Gorontalo Diminta Kembalikan Konsep Tradisional Tumbilotohe

Khususnya di Kota Gorontalo misalnya, hanya sebagian masyarakat yang kini menggunakan lampu tradisional.Misalnya lampu botol minyak tanah dan padamala

zoom-inlihat foto Pemkot Gorontalo Diminta Kembalikan Konsep Tradisional Tumbilotohe
TribunGorontalo.com/WawanAkuba
Lampu botol yang digunakan pada tradisi Tumbilotohe. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Karena alasan praktis dan mudah didapat, masyarakat Gorontalo yang merayakan Tumbilotohe kini beralih ke lampu listrik atau disebut tumbler. 

Khususnya di Kota Gorontalo misalnya, hanya sebagian masyarakat yang kini menggunakan lampu tradisional. Misalnya lampu botol minyak tanah dan padamala. 

Hal ini pun membuat resah Ali Mobili, Pemerhati Budaya Gorontalo

Pasalnya lampu-lampu  yang menghiasi tradisi malam Tumbilotohe di tiga malam terakhir ramadhan itu, didominasi lampu tumbler.

Ali sendiri mengakui migrasi penggunaan lampu botol ke lampu hias atau listrik tentu tidak akan mengikis budaya yang ada, sebab suasananya tetap hadir.

Perayaan di di desa-desa terpencil masih kerap menggunakan lampu botol yang memiliki bahan bakar minyak kelapa atau minyak tanah ketimbang listrik.

Hanya di bagian perkotaan saja yang mulai mengubah lampu tradisional dengan lampu hias. 

Namun kata Ali, seharusnya pemerintah mengembalikan tradisi Tumbilotohe tidak hanya menggunakan lampu listrik, namun menghadirkan lampu padamala.

Untuk tetap menjaga kelestarian harusnya pemerintah menetapkan titik-titik mana saja yang masih menggunakan konsep zaman dulu, yakni dengan penggunaan lampu tradisional.

“Penempatan titik-titik yang menggunakan padamala atau lampu tradisional lainnya harus tetap dihadirkan di beberapa titik saja, sehingga tidak hilang secara penuh tradisi ini.” jelas Ali, Rabu (20/4/2022).

Memang, jika dipaksakan semua harus menggunakan lampu tradisional juga agak sulit kata Ali.

Sebab saat ini tidak hanya minyak tanah yang mengalami kelangkaan, melainkan juga minyak goreng yang merupakan bahan bakar minyak padamala.

Solusinya kata ali, seharusnya pemerintah mengambil inisiatif untuk tetap melaksanakan Tumbilotohe dengan konsep yang khas. 

Pemkot harusnya mengembalikan harga minyak goreng atau kelapa, sebab padamala menggunakan bahan bakar minyak kelapa .

“Para perantau jika melihat tradisi ini tentu sangat merindukan wisata religi di Gorontalo,  sehingga pemerintah walaupun mulai banyak masyarakat menggunakan lampu listrik, pemerintah harusnya tetap menghadirkan di titik mana saja yang menggunakan lampu tradisional sehingga tidak hilang” tutup Ali. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved