Curhat Petani Bone Bolango: Lebih Baik Jual Pisang daripada Mengemis

Langit di atas Kota Gorontalo cerah, Rabu (23/2/2022) malam. Dari kejauhan terlihat penjual pisang keliling sedang asyik.

Penulis: Apris Nawu | Editor: lodie tombeg
TribunGorontalo.com/Apris Nawu
Petani Kabila berjualan pisang di Jalan Sultan Botutihe dekat Warkop Teras 62, Kota Gorontalo, sekira pukul 21.00 Wita.  

Penjual Pisang Gerobak Keliling Mencari Rezeki Untuk Keluarganya.


TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Langit di atas Kota Gorontalo cerah, Rabu (23/2/2022) malam. Dari kejauhan terlihat penjual pisang keliling sedang asyik mengatur dagangan yang dipajang pada gerobak.

Pisang masak kekuningan langsung menggugah selera. Selain pisau, pedagang ini juga menjual kacang dalam kemasan sederhana.

TribunGorontalo.com mampir dan bercerita dengan pemilik gerobak keliling itu. Dia mengaku warga Kabila, Kabupaten Bone Bolango. Kebetulan malam itu, dia berjualan Jalan Sultan Botutihe dekat Warkop Teras 62, Kota Gorontalo, sekira pukul 21.00 Wita. 

"Saya bekerja dari pagi sampai malam, menjual pisang. Saya keliling jalan dari Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo untuk menjual pisang hasil dari panen saya di kebun," kata petani sekaligus pedagang yang enggan menyebutkan namanya.

Dia mempunya keluarga dengan lima orang anak. "Anak saya ada lima orang, saya menghidupi semua, karena saya kepala keluarga," katanya.

Beralih ke pisang, katanya, harga dagangannya berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu setiap sisir hingga gabungan beberapa sisir pisang emas.

"Kehidupan kami memang miskin. Tapi saya lebih baik jadi penjual pisang keliling daripada jadi pengemis," ujar pria yang mengenakan pelindung kepala saat berkebun ini. (apr)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved