Tribun Jatim
Tahun 1975 Mesjid Baiturrahim Alami Revolusi Arsitektur
Minggu, 29 Juli 2012 21:02 WITA
Share |

Laporan Wartawan Tribun Gorontalo Budi Susilo

TRIBUNGORONTALO.COM-Pergeseran model bangunan mesjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo mengalami revolusi total kala masuk di tahun 1795 masehi.

Periode tahun ini, mesjid yang berawal gaya rumah panggung, bermetamorfosa model arsitektur bangunan datar.

Berdasarkan pengakuan, H Dadi Kasim Usman (76), Ketua Adat Baate, bahwa, kebijakan mengubah model mesjid dari panggung ke model datar lebih pertimbangan efisensi dan menyesuaikan perkembangan jaman.

"Dulu waktu model panggung itu harus ganti-ganti terus pondasi bangunanya. Pondasi pakai kayu, kalau sudah lapuk diganti," ujarnya kepada tribungorontalo.com, Kamis (26/7/2012).
Bandingkan, kalau model mendatar sudah tidak lagi repot berpikir menggantinya. Apalagi saat itu, model bangunan mendatar telah menjadi trend.

"Ini dilakukan saat Gorontalo dipegang pemerintahan Raja Unonongo. Raja yang ke-12," ungkap pria pensiunan Pegawai Negeri Sipil Pemkot Gorontalo ini.

Bahan bangunan mesjid tidak dibuat lagi dari kayu-kayu. Sudah beralih ke beton dengan bahan baku dasar dari campuran pasir dan kapur.

"Dindingnya sampai lantai mesjid dibuat dari beton campuran pasir dan kapur," ujar Usman.

Bayangkan saja, ungkap Usman, untuk ketebalan tembok mesjidnya saat itu mencapai 80 centimeter. Beda dengan yang sekarang, dahulu temboknya itu tebal sekali, kuat terhadap benturan.

"Dulu itu yang bangun warga masyarakat. Warga ikhlas mau bergotong-royong bangun mesjid," urai pria yang memiliki cucu 25 dan cicit 1 ini.

Tapi kekokohan itu rupanya tidak abadi. Allah lebih Maha Perkasa dan Kuasa, tidak bisa dibandingkan oleh lainnya. Mesjid yang bertembok tebal itu hancur rata digoyang oleh gempa bumi dahsyat pada tahun 1942.

"Saya ingat sekali waktu umur enam tahun, Gorontalo diguncang gempa. Besar sekali goyangannya, semua rumah termasuk mesjid Baiturrahim rata, tidak tersisa," kata Usman.

Meski demikian, tutur Usman, tidak menurutkan warga masyarakat setempat untuk beribadah. Gairah bersujud kepada Allah SWT tidaklah luntur.

"Mesjid walau sudah rubuh oleh warga dibangun lagi, walau dengan seadanya. Kondisi mesjid darurat sekali," urainya.

Saking daruratnya, jemaah sholat di mesjid hanya beratapkan langit, bertembok angin. Tapi ini tidak berlangsung lama sebab warga mulai membangunnya kembali meski hanya memakai bahan material dari kayu-kayuan.

Masa keprihatinan jemaah Mesjid Agung Baiturrahim sampai empat tahun lamanya. Hal ini berlangsung sampai tahun 1947. Di tahun inilah, mesjid dibangun kembali, dikembalikan seperti semula.

Penggarapan proyek dilakukan langsung oleh Abdullah Usman, yang menjabat sebagai Kepala BOW, era masih pemerintahan kolonial Belanda. "Kalau sekarang ini seperti dinas Pekerjaan Umumnya," kata Usman.

Singkat cerita masuk sampai tahun 1964, mesjid kemudian diperluas kembali. Penggarapan proyek uni berlangsung di era pemerintahan Wali Kota Takin Yode yang dibantu juga Yusuf Polapa yang saat itu menjabat sebagai Pimpinan Muhammadiyah Gorontalo.

Dunia terus berkembang, kehidupan jaman semakin modern, jumlah penduduk dan pertukaran budaya terus masuk ke Gorontalo membuat mesjid ini pun beradaptasi dengan kondisi terkini.

Perubahan ini nampak mencolok masuk di tahun 1999, bangunan dan model mesjid diubah total. Oleh Presiden Habibie mesjid lebih tampak berwarna penuh gaya seni tinggi.

Era inilah, interior mesjid lebih ceria dihiasi indah seni kaligrafi yang dibuat oleh para seniman dari jawa. Serta interior mesjid pun dilengkapi 16 pondasi yang menandakan sebagai kekuatan eksistensi bangunan mesjid.

"Pak Rahmat Goble juga ikut membantu waktu itu, ia jadi pemimpin proyeknya," katanya. (*)

Penulis : taufiq
Editor : taufiq

comments powered by Disqus